Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ngopi Bijak, Pemicu Perubahan Ekonomi Sirkular

Popularitas kopi di ruang publik mendorong kesadaran baru soal pengelolaan limbah melalui pendekatan sirkular yang melibatkan konsumen dan pelaku usaha.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 20.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ngopi Bijak, Pemicu Perubahan Ekonomi Sirkular
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kebiasaan ngopi di kafe kini bukan sekadar ritual minum, melainkan bagian dari gaya hidup urban yang menyerap dimensi sosial dan budaya. Data survei GoodStats pada Oktober 2024 menunjukkan 71 persen masyarakat Indonesia lebih memilih membeli kopi di tempat usaha ketimbang menyeduhnya sendiri di rumah. Fenomena ini menunjukkan transformasi fungsi kopi dari alat mengusir kantuk menjadi simbol keterlibatan sosial dan produktivitas. Namun, di balik kepuasan minum kopi, tersembunyi tantangan lingkungan dari limbah yang dihasilkan setiap sesi.

Setelah secangkir kopi selesai diminum, sisa-sisa seperti gelas, sedotan, dan tutup menjadi bagian dari alur limbah yang perlu dipikirkan secara bijak. Material seperti Polypropylene (PP) dan High-Density Polyethylene (HDPE) yang digunakan dalam kemasan memiliki karakteristik berbeda, sehingga perlu dipilah sesuai jenisnya. Pemahaman terhadap jenis material menjadi kunci awal dalam mengurangi dampak lingkungan, sekaligus membuka ruang untuk pemanfaatan kembali bahan tersebut sebagai bahan baku produk baru.

Inisiatif kampanye Indonesia Asri melalui Jejak Asri Hobbies Vol. 2 ‘Ngopi Bijak, Sirkular Berdampak’ mengajak masyarakat memandang ngopi sebagai momen edukasi lingkungan. Melalui pendekatan sederhana seperti memilah kemasan, menggunakan tumbler pribadi, dan memahami proses daur ulang, individu dapat berkontribusi pada ekonomi sirkular. Ampas kopi pun tidak sekadar sampah—dengan pengolahan tepat, ia bisa menjadi kompos yang bermanfaat bagi pertanian dan tanaman.

Pelaku usaha juga diminta turut serta dalam membangun ekosistem berkelanjutan. Salah satunya Kopi Nako yang menerapkan sistem pencucian langsung gelas plastik bekas melalui mesin rinser, serta menggunakan produk daur ulang dalam operasionalnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ruang kafe bisa menjadi tempat edukasi, bukan hanya tempat konsumsi. Dengan begitu, ngopi menjadi lebih dari sekadar kebiasaan—menjadi gerakan kecil yang membawa dampak besar bagi lingkungan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya