Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Obat Baru Hibsago Disetujui untuk Pengobatan Hepatitis B Kronis

FDA AS menyetujui Hibsago, obat antisense pertama untuk hepatitis B kronis, yang memungkinkan sebagian pasien mengendalikan virus setelah berhenti terapi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 12.09 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 23x dibuka
Obat Baru Hibsago Disetujui untuk Pengobatan Hepatitis B Kronis📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan persetujuan kepada obat Hibsago, produk dari perusahaan farmasi Inggris GSK, untuk digunakan dalam pengobatan hepatitis B kronis pada orang dewasa tertentu. Obat ini merupakan generasi terbaru dalam terapi virus, dengan mekanisme kerja yang menargetkan materi genetik virus untuk menghambat perbanyakannya. Persetujuan ini diberikan setelah uji klinis menunjukkan hasil menjanjikan dalam menekan antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) dan memungkinkan sebagian pasien berhenti dari terapi antivirus tanpa kekambuhan.

Hibsago, yang merupakan merek dagang dari bepirovirsen, sebelumnya telah disetujui di Jepang dan kini sedang dalam peninjauan oleh otoritas kesehatan di China serta Eropa. Obat ini khusus ditujukan bagi pasien yang tidak mengalami sirosis, telah menjalani terapi antivirus selama minimal enam bulan, memiliki kadar virus yang terkendali dalam darah, serta memiliki tingkat HBsAg tidak lebih dari 3.000 IU/mL. Pemakaian obat dilakukan melalui suntikan subkutan selama maksimal 24 minggu, dan dilanjutkan dengan pengawasan ketat setelah penghentian terapi.

Hasil uji klinis yang melibatkan dua kelompok, satu menerima Hibsago dan lainnya plasebo, menunjukkan bahwa 24 persen pasien yang mendapat Hibsago memenuhi kriteria untuk menghentikan obat antivirus lama. Dalam periode 24 minggu setelah terapi dihentikan, 19 persen dari kelompok tersebut tetap mampu mengendalikan virus secara berkelanjutan, dengan tidak terdeteksinya HBsAg dalam darah. Angka ini menandai kemajuan signifikan dibandingkan terapi konvensional yang umumnya memerlukan pengobatan seumur hidup tanpa jaminan pemulihan total.

Meskipun hasilnya menggembirakan, obat ini memiliki risiko serius yang harus dipertimbangkan, termasuk gangguan fungsi hati, penurunan trombosit, dan penurunan fungsi ginjal. Pasien juga berpotensi mengalami reaksi inflamasi berat seperti vaskulitis, serta efek samping umum seperti nyeri di tempat suntikan, demam, kelelahan, dan sakit kepala. Oleh karena itu, penggunaan Hibsago harus dilakukan di bawah pengawasan medis ketat dan disertai pemeriksaan darah rutin selama masa terapi.

Persetujuan FDA ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam transformasi pengelolaan hepatitis B kronis, yang menyerang lebih dari 250 juta orang di dunia. Dengan menawarkan peluang pemulihan jangka panjang bagi sebagian pasien, obat ini membuka jalan bagi terapi yang tidak lagi bergantung pada konsumsi obat seumur hidup. Namun, para ahli menekankan bahwa hasilnya tidak bersifat universal dan memerlukan evaluasi klinis menyeluruh sebelum penghentian pengobatan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya