Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Parfum di Leher: Bahaya atau Mitos?

Penggunaan parfum di leher diklaim berisiko gangguan tiroid dan kanker, tetapi bukti ilmiah tidak mendukung klaim tersebut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.20 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
Parfum di Leher: Bahaya atau Mitos?📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Penggunaan parfum di area leher kerap menjadi kebiasaan karena dianggap efektif dalam menyerap aroma dan memperpanjang durasi wangi. Namun, seiring beredarnya informasi di media sosial, muncul kekhawatiran bahwa lokasi leher yang berdekatan dengan kelenjar tiroid membuatnya rentan terhadap kerusakan akibat bahan kimia dalam parfum. Klaim ini menyebutkan potensi gangguan hormon, bahkan kanker tiroid, akibat paparan zat pewangi langsung ke kulit sensitif di area tersebut.

Sejauh ini, tidak ada bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa menyemprotkan parfum di leher secara langsung menyebabkan kerusakan pada kelenjar tiroid atau meningkatkan risiko kanker. Studi yang diterbitkan oleh The Conversation pada Agustus 2026 menegaskan bahwa belum ada data yang membuktikan bahwa bahan kimia dalam parfum secara khusus menyerap ke kelenjar tiroid lebih tinggi dibanding area tubuh lainnya. Paparan yang terjadi di leher tidak secara otomatis berarti menimbulkan paparan lebih besar terhadap organ vital tersebut.

Meski demikian, parfum tetap berpotensi menimbulkan efek samping pada kulit, terutama pada individu dengan kulit sensitif atau alergi terhadap komponen pewangi. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mencatat bahwa produk kosmetik, termasuk parfum, dapat memicu reaksi alergi seperti gatal, kemerahan, ruam, dan bahkan pembengkakan. American Academy of Dermatology (AAD) juga menyebutkan bahwa leher merupakan salah satu bagian tubuh yang rentan terhadap dermatitis kontak akibat paparan zat-zat iritan atau alergen dari produk perawatan pribadi.

Selain iritasi, beberapa bahan parfum dapat memperbesar sensitivitas kulit terhadap sinar ultraviolet, meningkatkan risiko iritasi atau hiperpigmentasi setelah terpapar sinar matahari. Jika muncul gejala seperti perih, gatal, atau ruam setelah pemakaian parfum di leher, sebaiknya hentikan penggunaan dan observasi perkembangan gejala. Keamanan penggunaan parfum tetap bergantung pada kualitas produk, komposisi bahan, serta kondisi kulit individu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya