Parfum di Leher: Bahaya atau Mitos?
Penggunaan parfum di leher diklaim berisiko gangguan tiroid dan kanker, tetapi bukti ilmiah tidak mendukung klaim tersebut.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.20 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Penggunaan parfum di area leher kerap menjadi kebiasaan karena dianggap efektif dalam menyerap aroma dan memperpanjang durasi wangi. Namun, seiring beredarnya informasi di media sosial, muncul kekhawatiran bahwa lokasi leher yang berdekatan dengan kelenjar tiroid membuatnya rentan terhadap kerusakan akibat bahan kimia dalam parfum. Klaim ini menyebutkan potensi gangguan hormon, bahkan kanker tiroid, akibat paparan zat pewangi langsung ke kulit sensitif di area tersebut.
Sejauh ini, tidak ada bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa menyemprotkan parfum di leher secara langsung menyebabkan kerusakan pada kelenjar tiroid atau meningkatkan risiko kanker. Studi yang diterbitkan oleh The Conversation pada Agustus 2026 menegaskan bahwa belum ada data yang membuktikan bahwa bahan kimia dalam parfum secara khusus menyerap ke kelenjar tiroid lebih tinggi dibanding area tubuh lainnya. Paparan yang terjadi di leher tidak secara otomatis berarti menimbulkan paparan lebih besar terhadap organ vital tersebut.
Meski demikian, parfum tetap berpotensi menimbulkan efek samping pada kulit, terutama pada individu dengan kulit sensitif atau alergi terhadap komponen pewangi. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mencatat bahwa produk kosmetik, termasuk parfum, dapat memicu reaksi alergi seperti gatal, kemerahan, ruam, dan bahkan pembengkakan. American Academy of Dermatology (AAD) juga menyebutkan bahwa leher merupakan salah satu bagian tubuh yang rentan terhadap dermatitis kontak akibat paparan zat-zat iritan atau alergen dari produk perawatan pribadi.
Selain iritasi, beberapa bahan parfum dapat memperbesar sensitivitas kulit terhadap sinar ultraviolet, meningkatkan risiko iritasi atau hiperpigmentasi setelah terpapar sinar matahari. Jika muncul gejala seperti perih, gatal, atau ruam setelah pemakaian parfum di leher, sebaiknya hentikan penggunaan dan observasi perkembangan gejala. Keamanan penggunaan parfum tetap bergantung pada kualitas produk, komposisi bahan, serta kondisi kulit individu.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Tiga Tokoh Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Tiga tokoh dari berbagai latar belakang berhasil menyabet penghargaan dalam kategori Partisipasi Publik pada ajang Penghargaan Energi Subroto 2026 di Jakarta.
24 Oktober 2026

PLN Nusantara Power dan Eco Prima Jadi Pemenang Energi Subroto 2026
Dua perusahaan, PLN Nusantara Power dan Eco Prima Energi, meraih penghargaan Energi Subroto 2026 dalam kategori transformasi digital dan hilirisasi nilai tambah.
24 Oktober 2026

BRI Salurkan 270 Pompa Air Atasi Karhutla di Kalimantan Barat
BRI menyalurkan 270 unit mesin pompa air dan perlengkapan penunjang untuk dukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat melalui program BRI Peduli.
24 Oktober 2026

Transmart Gelar Diskon Besar-Besaran Sehari Penuh
Transmart kembali menggelar Full Day Sale dengan potongan harga hingga 50 persen dan tambahan diskon 20 persen untuk pembayaran melalui layanan tertentu.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BRI Perkuat Nilai Saham Lewat Buyback Rp1 Triliun
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

Wall Street Picu Pelemahan Bursa Asia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

IHSG Melonjak, Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

IHSG Awal Perdagangan Naik 0,18% ke 5.397
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

Bank Mandiri Bagi Dividen Rp50,63 Triliun dan Realisasi Buyback 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

50 Juta Warga Belum Punya Rekening, Pemerintah Siapkan Solusi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

DSN MUI Ungkap Dua Aset Kripto Berpotensi Halal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.02 WITA

