Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Pangan, Seimbangkan Produsen dan Konsumen

Pemerintah terus memantau fluktuasi harga bahan pokok dengan mengacu pada harga acuan dan HET untuk menyeimbangkan kepentingan produsen dan konsumen.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 12.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Pangan, Seimbangkan Produsen dan Konsumen📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa upaya pemerintah menjaga harga pangan tidak hanya dilakukan saat terjadi kenaikan, tetapi juga saat harga terlalu rendah. Ia menyoroti pentingnya menjaga ekosistem pangan agar produsen tetap mampu bertahan, sekaligus mencegah beban berlebihan bagi konsumen. Menurutnya, harga acuan dan harga eceran tertinggi (HET) menjadi rujukan utama dalam menilai kondisi pasar, bukan sekadar tren kenaikan atau penurunan semata.

Harga telur nasional saat ini berada di kisaran Rp26.700 per kilogram, jauh di bawah harga acuan Rp30.000. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan posisi sebelumnya yang berkisar Rp22.000–Rp23.000. Kondisi serupa terjadi pada ayam, dengan harga rata-rata nasional mencapai Rp40.700 per kg, meski harga acuannya hanya Rp40.000. Budi menyebut penurunan harga sebelumnya hingga Rp34.000–Rp35.000 menyebabkan sebagian peternak tidak mampu menutup biaya produksi, bahkan ada yang membuang hasil ternak.

Untuk menjaga keseimbangan, pemerintah melakukan intervensi terhadap komoditas yang berada di atas HET maupun di bawah harga acuan. Contohnya, beras medium dijual rata-rata Rp13.900 per kg, lebih tinggi dari HET Rp13.500. Untuk menstabilkan harga, pemerintah menyalurkan 1 juta ton beras SPHP melalui Perum Bulog dengan merek Beras Kita ke ritel modern dan pasar tradisional. Sementara bawang merah, cabai merah keriting, dan bawang putih juga ditemukan di bawah harga acuan, menunjukkan tekanan terhadap produsen.

Budi menekankan bahwa informasi harga yang tidak akurat atau tidak lengkap dapat memicu kepanikan masyarakat. Ia mencontohkan isu harga minyak goreng Rp42.000 yang ternyata hanya berlaku untuk kemasan dua liter, tanpa penjelasan rinci. Hal ini berpotensi menimbulkan panic buying jika tidak dibenahi. Oleh karena itu, edukasi melalui media terpercaya menjadi kunci untuk menyebarkan data yang akurat.

Dalam sistem pangan yang sehat, tiga pihak—produsen, pedagang, dan konsumen—harus terjaga keseimbangannya. Jika harga terlalu rendah, produksi terancam menurun. Jika terlalu tinggi, konsumen akan terbebani. Harga acuan menjadi alat penting untuk mencegah ekstrem tersebut, memastikan pasar tetap berjalan stabil tanpa mengorbankan salah satu pihak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya