Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penerimaan Migas Melonjak 109% di Tengah Harga Minyak Dunia Naik

Proyeksi penerimaan negara dari sektor hulu migas mencapai 109% dari target APBN 2026, didorong kenaikan harga minyak mentah Indonesia ke level US$105–US$106 per barel.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 50x dibuka
Penerimaan Migas Melonjak 109% di Tengah Harga Minyak Dunia Naik📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi diproyeksikan melampaui target APBN 2026 hingga 109 persen, menunjukkan dampak signifikan dari kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap keuangan negara. Kenaikan ini didorong oleh rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang kini berada di kisaran US$105 hingga US$106 per barel, jauh melampaui asumsi awal dalam perencanaan anggaran sebesar US$75 per barel. Peningkatan tersebut menjadi faktor kunci dalam memperkuat posisi kas negara dari sektor energi.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, menegaskan bahwa dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasokan minyak mentah menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Dalam konferensi pers di Jakarta, ia menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi bukti responsifnya sektor migas terhadap kondisi pasar internasional. Proyeksi 109 persen tersebut mencakup perkiraan penerimaan hingga akhir tahun 2026, dengan realisasi hingga saat ini sudah mencapai 80 persen dari target.

Meskipun volume ekspor atau lifting tidak mengalami kenaikan signifikan, kenaikan harga ICP secara efektif mendorong kenaikan penerimaan. Desti memperkirakan harga minyak tetap stabil di rentang US$95 hingga US$98 per barel hingga akhir tahun, bahkan bisa menyentuh US$100 jika ketidakpastian global berlanjut. Dengan kondisi ini, pemerintah berupaya memanfaatkan momentum untuk memaksimalkan produksi dan pengiriman minyak dari lapangan-lapangan yang sudah beroperasi.

Strategi yang diterapkan SKK Migas kini berfokus pada optimalisasi volume lifting guna memperbesar kontribusi penerimaan negara di tengah harga tinggi. Dengan harga yang tinggi, setiap satuan produksi memberikan dampak lebih besar terhadap pendapatan negara. Di sisi lain, lonjakan harga juga berpotensi menekan anggaran subsidi energi, namun sektor hulu migas diharapkan mampu menyeimbangkan beban tersebut melalui tambahan setoran.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya