Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pengembang Usulkan Subsidi Bunga untuk Hunian Menengah Tanggung

Himperra usulkan subsidi bunga KPR bagi masyarakat berpenghasilan menengah tanggung agar cicilan rumah Rp300 juta turun dari Rp3 juta menjadi Rp2 juta per bulan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 21.11 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 164x dibuka
Pengembang Usulkan Subsidi Bunga untuk Hunian Menengah Tanggung📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) mengusulkan skema subsidi pembiayaan kredit perumahan bagi kalangan menengah tanggung (MBT), yang memiliki daya beli terbatas namun memiliki kebutuhan hunian berkualitas. Usulan ini menyasar masyarakat yang ingin membeli rumah dalam kisaran harga Rp250 juta hingga Rp500 juta, tetapi terhambat oleh tingginya beban cicilan akibat bunga KPR komersial yang tinggi.

Ketua Umum Himperra, Ari Tri Priyono, menekankan bahwa kelompok MBT, termasuk generasi muda, menginginkan hunian dengan standar lebih baik dibandingkan rumah bersubsidi. Mereka menilai pentingnya akses ke fasilitas publik dan lokasi yang dekat dengan tempat kerja. Dengan harga rumah di rentang tersebut, kebutuhan hunian yang layak bisa terpenuhi, asalkan beban keuangan bisa dikurangi.

Untuk itu, Himperra mengusulkan pemberian subsidi bunga agar tingkat bunga yang dibayar konsumen berada di kisaran 7% per tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan fasilitas pembiayaan rumah bersubsidi (FLPP), tetapi tetap jauh lebih terjangkau dibandingkan bunga komersial. Dengan skema ini, cicilan bulanan rumah seharga Rp300 juta yang sebelumnya mencapai Rp3 juta bisa ditekan menjadi Rp2 juta, membuat properti lebih layak dibeli bagi kalangan menengah.

Pengembang juga menilai bahwa kebijakan ini akan membuka peluang pengembangan hunian di kawasan strategis yang sebelumnya sulit dijangkau karena harga tanah yang tinggi. Saat ini, harga tanah matang untuk rumah subsidi berkisar Rp300 ribu per meter persegi, sedangkan pengembang yang menargetkan rumah Rp300–500 juta bisa menjangkau tanah hingga Rp700 ribu per meter persegi. Hal ini memungkinkan pembangunan yang lebih beragam dan menyesuaikan preferensi pasar.

Pendekatan ini diharapkan mendorong peningkatan akses perumahan bagi kelompok menengah tanpa mengorbankan kualitas dan lokasi. Dengan penurunan beban keuangan, lebih banyak calon pembeli yang akan berminat, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor properti yang inklusif dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya