Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perang di Gurun Lahj: Dampak Kekerasan pada Warga dan Stabilitas Energi Global

Konflik sengit antara pasukan pro-pemerintah Yaman dan milisi Houthi di wilayah gurun Lahj memperburuk krisis kemanusiaan dan mengancam jalur maritim strategis Bab al-Mandab.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 21.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 171x dibuka
Perang di Gurun Lahj: Dampak Kekerasan pada Warga dan Stabilitas Energi Global📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah hamparan gurun yang luas dan terpencil di barat daya Yaman, pertempuran sengit terus berlangsung antara pasukan pro-pemerintah dan milisi Houthi. Perjalanan koresponden ke wilayah tersebut menunjukkan garis pertahanan baru yang dibangun dari karung pasir, menandai upaya keras untuk menahan serangan dari kelompok yang didukung Iran. Komandan pasukan, Tawfiq Al Haboun, mengungkapkan bahwa musuh memiliki senjata canggih, termasuk penembak jitu, artileri, dan drone berbahan peledak C4, yang telah melukai dirinya sendiri dengan serpihan logam dan kaca.

Wilayah strategis di dataran tinggi dekat koridor maritim Bab al-Mandab kini menjadi titik krusial dalam konflik. Meskipun milisi Houthi sempat merebut wilayah tersebut dalam serangan cepat bulan September, pasukan pro-pemerintah melaporkan telah memulihkan kendali atas sekitar 85 persen wilayah itu. Kendati begitu, Houthi tetap menolak mengakui kehilangan kendali di area tersebut, meski sumber lokal menyebutkan penarikan pasukan dari beberapa posisi. Ketegangan di area ini berpotensi mengganggu aliran minyak global, karena jalur sempit Bab al-Mandab menjadi kunci bagi perdagangan energi internasional.

Kekerasan yang melanda kawasan ini telah memaksa sekitar 200.000 warga mengungsi sejak awal September. Di bawah pohon-pohon yang rindang, keluarga-keluarga terlantar ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Aisha, seorang perempuan dari pegunungan Kahboob, menceritakan pengalaman mengungsi selama 30 hari tanpa makanan, air, atau perlindungan. “Saya tidak punya apa-apa, hanya pakaian yang saya kenakan,” ujarnya, menggambarkan penderitaan yang dialami banyak warga yang terdampak konflik.

Di kota Aden, pusat pemerintahan yang diakui secara internasional, rumah sakit militer kewalahan menangani korban luka. Dalam sehari, 51 pasien tiba secara bersamaan, mayoritas mengalami luka tembak dan beberapa membutuhkan amputasi. Dokter Bassam Hazar menegaskan bahwa semua korban diperlakukan tanpa memandang latar belakang, menekankan prinsip kemanusiaan. Di antara mereka, seorang milisi Houthi berbaring berdampingan dengan pejuang pro-pemerintah, menunjukkan realitas perang yang tak memandang ideologi.

Meski perang berkecamuk, semangat bertahan dan kembali berjuang masih hidup. Ahmed Ali Mahmoud, yang mengalami patah tulang, menyatakan bahwa pulihnya fisik bukan prioritas utama. “Saya ingin berdiri tegak, karena ini kewajiban agama dan nasional,” ujarnya. Di tengah penderitaan, harapan akan perdamaian terus menjadi suara yang terdengar lemah, namun tak pernah benar-benar padam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya