Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Potensi Panas Bumi RI Belum Terealisasi Maksimal

Indonesia memiliki potensi panas bumi hingga 24 gigawatt, namun realisasi pembangkit masih terkendala risiko tinggi dan biaya besar, meski perusahaan targetkan kapasitas 1,8 GW pada 2034.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 23.03 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 59x dibuka
Potensi Panas Bumi RI Belum Terealisasi Maksimal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia diperkirakan memiliki cadangan energi panas bumi mencapai 24 gigawatt, menjadikannya salah satu negara dengan potensi terbesar di dunia. Namun, pemanfaatannya secara komersial masih terhambat oleh kompleksitas teknis dan tingginya risiko eksplorasi. Proses pengeboran untuk menemukan sumber uap panas bumi memiliki tingkat keberhasilan sekitar 50 persen, yang menimbulkan potensi kerugian besar jika sumber tidak ditemukan.

Perusahaan pengelola panas bumi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi mulai dari eksplorasi hingga operasional pembangkit. Direktur Operasi PGEO, Andi Joko, menjelaskan bahwa keberhasilan proyek tergantung pada keberlanjutan investasi dan manajemen risiko yang cermat. Saat ini, kapasitas yang dioperasikan perusahaan baru mencapai 727 megawatt, dengan target peningkatan menjadi 1.000 megawatt pada 2028 dan 1,8 gigawatt pada 2034.

Peningkatan kapasitas ini memerlukan pendanaan besar, diperkirakan mencapai antara 5 hingga 6 juta dolar AS per megawatt, tergantung kondisi lokasi dan infrastruktur pendukung. PGE memanfaatkan berbagai sumber pendanaan, termasuk hasil IPO dan kemitraan dengan PLN, serta fokus pada wilayah strategis seperti Lahendong, Lumut Balai, dan Ulubelu untuk memperluas jangkauan eksplorasi.

Tantangan pengembangan panas bumi bukan hanya soal teknis, tetapi juga waktu. Menurut Staf Khusus Wapres Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Tina Talisa, proses dari perizinan hingga operasional komersial bisa memakan waktu lima hingga enam tahun. Ia menekankan bahwa keberlanjutan dan kolaborasi lintas sektor—pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat lokal—adalah kunci utama.

Pemanfaatan panas bumi juga perlu meluas di luar produksi listrik. Di kawasan seperti Kamojang, energi panas bumi dimanfaatkan untuk pertanian berbasis panas dan pengembangan usaha mikro. Dengan demikian, manfaat energi terbarukan ini tidak hanya berdampak pada pasokan listrik, tetapi juga pada kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya