Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Prabowo Dorong Transisi Energi Berkelanjutan, METI Apresiasi Langkah Strategis

Pemerintahan Prabowo dinilai telah menunjukkan kepemimpinan kuat dalam akselerasi energi terbarukan, dengan sejumlah program strategis yang berdampak pada kemandirian, ekonomi rakyat, dan keberlanjutan lingkungan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 12.04 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 42x dibuka
Prabowo Dorong Transisi Energi Berkelanjutan, METI Apresiasi Langkah Strategis📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dua tahun kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi titik tolak signifikan dalam percepatan transformasi sistem energi nasional, menurut evaluasi Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI). Organisasi tersebut menilai langkah-langkah terukur dalam pengembangan energi berkelanjutan telah menegaskan komitmen pemerintah terhadap ketahanan energi, industrialisasi, dan kesejahteraan masyarakat. Dalam keterangan resmi, Ketua Umum METI Norman Ginting menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan energi, kemandirian ekonomi, dan perlindungan lingkungan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Program B50, yang diluncurkan pada Juli 2026, menjadi salah satu sorotan utama. METI mengapresiasi kebijakan pencampuran biodiesel 50 persen dalam solar, yang dinilai mampu menghentikan impor solar dan menghemat devisa hingga Rp170 triliun. Norman menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada pengurangan ketergantungan impor, tetapi juga pada penguatan ekonomi petani dan pengembangan industri dalam negeri. Namun, ia juga menekankan perlunya pengelolaan insentif dan pembiayaan yang efisien agar keberlanjutan fiskal tetap terjaga.

Di sektor bahan bakar nabati, pemerintah juga menginisiasi program E20—pencampuran bensin dengan 20 persen bioetanol—yang berbasis pada bahan baku lokal seperti tebu, jagung, sorgum, dan singkong. METI menyambut baik langkah ini, sekaligus menekankan pentingnya kemitraan adil antara petani dan industri, serta pengelolaan lahan yang berkelanjutan tanpa mengorbankan ketahanan pangan. Kepastian penyerapan hasil produksi dan kebijakan yang transparan menjadi kunci keberhasilan rantai pasok energi nasional.

Pencapaian lain yang diapresiasi adalah komitmen pemerintah terhadap target pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 GWp. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi energi terbarukan dalam pasokan listrik, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan yang sebelumnya bergantung pada pembangkit diesel mahal. Integrasi dengan sistem penyimpanan energi, penguatan jaringan listrik, dan pengoperasian sistem yang optimal dinilai akan menekan biaya dan subsidi. Selain itu, percepatan pengolahan sampah menjadi energi juga mendapat dukungan, dengan fokus pada lokasi prioritas dan partisipasi pemerintah daerah serta mitra usaha.

Dukungan METI juga menyertai pengembangan berbagai sumber energi terbarukan lainnya, termasuk panas bumi, tenaga air, angin, biomassa, biogas, serta bahan bakar penerbangan dan hidrogen hijau sesuai kesiapan teknologi. Rencana penambahan kapasitas energi terbarukan dalam RUPTL PLN 2025–2034 yang mencapai 42,6 GW dan penyimpanan energi 10,3 GW, menyumbang 76 persen dari total rencana penambahan kapasitas 69,5 GW. Norman menegaskan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya pada visi, tetapi pada realisasi proyek, kepastian regulasi, pembiayaan kompetitif, dan koordinasi lintas sektor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya