Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Prabowo Sebut Kritikus "Goblok", Pakar Soroti Tanda Otoritarianisme

Presiden Prabowo menyebut para pakar dan akademisi yang mengkritiknya sebagai "goblok", pernyataan yang dikhawatirkan memperburuk budaya kritis dan memperkuat dominasi kekuasaan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 23.09 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 3x dibuka
Prabowo Sebut Kritikus "Goblok", Pakar Soroti Tanda Otoritarianisme📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan kontroversial terhadap kalangan akademisi dan pakar yang kritis terhadap kebijakannya. Ia menilai sejumlah tokoh yang mengaku pakar justru menyebar fitnah, lalu menyebut mereka dengan istilah "goblok", yang disambut sorakan dari hadirin. Pernyataan itu muncul dalam konteks penekanan terhadap kejujuran dalam menyampaikan analisis, sekaligus menjadi bagian dari pola komunikasi yang menekan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Pernyataan Prabowo ini bukan sekali ini terjadi. Sejak menjabat presiden, ia telah menggunakan serangkaian istilah pelecehan terhadap kritikus, termasuk "ndasmu", "antek asing", dan "londo ireng". Istilah-istilah tersebut muncul secara berulang dalam berbagai kesempatan, termasuk saat menyampaikan pidato di acara perayaan partai dan forum kebangsaan. Penggunaan kata-kata bernada pelecehan ini, menurut pakar politik dari CSIS, Nicky Fahrizal, mencerminkan kecenderungan menekan keberagaman pendapat dan mengancam ruang diskusi publik.

Kritik terhadap gaya komunikasi Presiden ini menyoroti potensi munculnya budaya otoritarian dalam tata kelola negara. Menurut analisis, menyalahkan kritikus dengan istilah seperti "goblok" atau "antek asing" tidak hanya merendahkan wacana intelektual, tetapi juga memperkuat narasi bahwa kritik terhadap pemerintah adalah bentuk pengkhianatan. Hal ini berpotensi menekan kebebasan berekspresi dan menghambat proses perbaikan kebijakan melalui masukan akademik.

Pernyataan Prabowo yang menyebut "saking pintarnya jadi goblok" menunjukkan ketidakmampuan menerima kritik sebagai bagian dari proses demokrasi. Ia meminta para intelektual menjunjung kejujuran, tetapi sekaligus menolak otoritas mereka dengan menyeret mereka ke dalam kategori yang tidak beretika. Dalam konteks ini, penggunaan bahasa yang provokatif tidak hanya merusak citra lembaga akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang tidak ramah terhadap perbedaan pandangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya