Prabowo Sebut Kritikus "Goblok", Pakar Soroti Tanda Otoritarianisme
Presiden Prabowo menyebut para pakar dan akademisi yang mengkritiknya sebagai "goblok", pernyataan yang dikhawatirkan memperburuk budaya kritis dan memperkuat dominasi kekuasaan.
Redaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 23.09 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 3x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan kontroversial terhadap kalangan akademisi dan pakar yang kritis terhadap kebijakannya. Ia menilai sejumlah tokoh yang mengaku pakar justru menyebar fitnah, lalu menyebut mereka dengan istilah "goblok", yang disambut sorakan dari hadirin. Pernyataan itu muncul dalam konteks penekanan terhadap kejujuran dalam menyampaikan analisis, sekaligus menjadi bagian dari pola komunikasi yang menekan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Pernyataan Prabowo ini bukan sekali ini terjadi. Sejak menjabat presiden, ia telah menggunakan serangkaian istilah pelecehan terhadap kritikus, termasuk "ndasmu", "antek asing", dan "londo ireng". Istilah-istilah tersebut muncul secara berulang dalam berbagai kesempatan, termasuk saat menyampaikan pidato di acara perayaan partai dan forum kebangsaan. Penggunaan kata-kata bernada pelecehan ini, menurut pakar politik dari CSIS, Nicky Fahrizal, mencerminkan kecenderungan menekan keberagaman pendapat dan mengancam ruang diskusi publik.
Kritik terhadap gaya komunikasi Presiden ini menyoroti potensi munculnya budaya otoritarian dalam tata kelola negara. Menurut analisis, menyalahkan kritikus dengan istilah seperti "goblok" atau "antek asing" tidak hanya merendahkan wacana intelektual, tetapi juga memperkuat narasi bahwa kritik terhadap pemerintah adalah bentuk pengkhianatan. Hal ini berpotensi menekan kebebasan berekspresi dan menghambat proses perbaikan kebijakan melalui masukan akademik.
Pernyataan Prabowo yang menyebut "saking pintarnya jadi goblok" menunjukkan ketidakmampuan menerima kritik sebagai bagian dari proses demokrasi. Ia meminta para intelektual menjunjung kejujuran, tetapi sekaligus menolak otoritas mereka dengan menyeret mereka ke dalam kategori yang tidak beretika. Dalam konteks ini, penggunaan bahasa yang provokatif tidak hanya merusak citra lembaga akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang tidak ramah terhadap perbedaan pandangan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini
Menteri Pertanian menegaskan harga beras akan turun dalam pekan ini berkat peningkatan pasokan dan penertiban beras fortifikasi yang tidak sesuai standar.
21 September 2026

Pemerintah Siapkan E50-B50 untuk Hemat Devisa Rp500 Triliun Tahunan
Penerapan bahan bakar nabati E50 dan B50 ditargetkan menghemat devisa hingga Rp500 triliun per tahun melalui pengurangan impor energi.
21 September 2026

Trump Cabut Akses Jurnalis, AS Setujui Penjualan F-35 ke Saudi
Pemerintahan Trump mencabut akses media ke Gedung Putih terhadap tiga outlet, sementara AS setujui penjualan jet F-35 bernilai miliaran dolar ke Arab Saudi, memicu protes dari Israel dan Iran tetapkan syarat untuk perundingan terkait Selat Hormuz.
21 September 2026

Wali Kota New York Apresiasi Kebijakan Transportasi Jakarta
Gubernur Jakarta Pramono Anung memaparkan strategi pengelolaan mobilitas dan subsidi transportasi massal kepada Wali Kota New York Zohran Mamdani dalam pertemuan di ajang U20 Mayors Summit 2026.
21 September 2026
Berita Lainnya

Kemenkeu Tunda Pembayaran Cicilan Rp37 Triliun ke Kopdes Merah Putih
Senin, 21 September 2026, 23.18 WITA

Saham BYAN Melemah Meski RKAB Anak Usaha Disetujui
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

BEI Turunkan Harga Saham Minimum Jadi Rp1 Mulai 28 September
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

Romy Bareno Resmi Jadi Komisaris Independen InJourney Airports
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

Prabowo Dorong Bensin dari Batu Bara untuk Kemandirian Energi
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

BYOND by BSI Perkenalkan Fitur Infaq Otomatis Terjadwal
Senin, 21 September 2026, 23.16 WITA

Dokumenter 'Skenario Sang Jenderal' Ungkap Rekayasa Pembunuhan Brigadir J
Senin, 21 September 2026, 23.12 WITA

Prancis vs Spanyol: Duel Taktik dan Kualitas di Semifinal Dunia 2026
Senin, 21 September 2026, 23.11 WITA

