Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Presiden Kenya Tuntut Transformasi, Usir Perusahaan Kimia Asing

Presiden Kenya William Ruto memerintahkan penghentian operasi Tata Chemicals Magadi karena gagal memberi nilai tambah lokal, dengan ancaman pengusiran jika tidak berubah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 22.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Presiden Kenya Tuntut Transformasi, Usir Perusahaan Kimia Asing
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Kenya William Ruto secara tegas memerintahkan perusahaan kimia asal India, Tata Chemicals, untuk menghentikan aktivitas di Danau Magadi dan segera meninggalkan wilayah negara. Keputusan ini diambil setelah pemerintah menilai perusahaan tidak memanfaatkan potensi sumber daya secara optimal, melainkan hanya mengekspor mineral mentah berupa abu soda tanpa proses pengolahan lokal. Langkah tegas ini disampaikan saat kunjungan presiden ke Kajiado, wilayah yang menjadi lokasi pabrik utama perusahaan.

Ruto menegaskan bahwa kontrak 100 tahun yang dimiliki Tata Chemicals Magadi tidak menjadi jaminan kekebalan dari kritik. Ia menyoroti ketiadaan investasi infrastruktur dan industri pengolahan di wilayah setempat, menyebut perusahaan tidak membangun pabrik apa pun di Kajiado dan hanya mengeruk sumber daya untuk diekspor. “Mereka tidak membangun apa pun di Kajiado, mereka tidak membangun pabrik apapun di Kajiado,” tegasnya, menekankan bahwa negara berhak menuntut kontribusi nyata dari investor.

Pemerintah Kenya telah menyiapkan dua calon investor baru untuk mengambil alih operasi pabrik, dengan harapan dapat mendorong transformasi ekonomi lokal melalui pengolahan bahan baku menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini merupakan respons terhadap penundaan operasional yang diberlakukan lima pekan sebelumnya, diduga akibat ketidakpatuhan Tata Chemicals dalam pembayaran royalti dan kewajiban regulasi lainnya.

Tata Chemicals menyatakan menghormati keputusan pemerintah dan menegaskan telah memberikan respons komprehensif terhadap tuntutan kementerian. Perusahaan menegaskan komitmen untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur hukum dan regulasi yang berlaku, menekankan bahwa mereka telah menjadi bagian integral dari ekonomi Kenya sejak mengambil alih operasi pada 2005.

Produksi abu soda di Magadi, yang telah berjalan sejak 1911, merupakan salah satu yang terbesar di Afrika dan menempatkan Kenya sebagai produsen global keempat. Dengan ekspor mencapai lebih dari 95% dari total produksi tahunan sekitar 350.000 ton, perusahaan menyumbang omzet US$ 78,7 juta pada 2024. Meski demikian, perusahaan tetap berpegang pada klaim dampak sosial, termasuk penyediaan air bersih, infrastruktur, layanan kesehatan, dan pendidikan bagi sekitar 30.000 warga sekitar Magadi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya