Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

RI Siapkan BBM Campuran Bioetanol 50% untuk Kurangi Impor

Pemerintah mulai menyusun strategi pengembangan BBM campuran bioetanol E50, berdasarkan pengalaman sukses program B50, dengan dukungan Pertamina dan target pembangunan 20–30 pabrik baru dalam dua tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.36 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 6x dibuka
RI Siapkan BBM Campuran Bioetanol 50% untuk Kurangi Impor📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya percepatan pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol sebagai langkah strategis menekan ketergantungan impor bahan bakar. Dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional di Istana Merdeka, ia memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk segera merancang kerangka program E50, yaitu campuran bensin dengan 50 persen bioetanol, dengan mengambil pelajaran dari implementasi B50 yang telah menunjukkan hasil positif.

Pendekatan ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terlebih dengan tingginya konsumsi BBM di dalam negeri. Bahlil menyatakan bahwa langkah selanjutnya harus berbasis pada evaluasi keberhasilan program biodiesel B50, termasuk aspek regulasi, ketersediaan bahan baku, dan keterlibatan industri. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem energi berkelanjutan yang mengedepankan produksi lokal.

Saat ini, Indonesia telah memulai penerapan bioetanol secara komersial melalui produk Pertamax Green 95, yang mengandung 5 persen bioetanol dan tersedia di sekitar 170 SPBU di Jawa Timur serta Jakarta. Harga produk ini pada September 2026 mencapai Rp19.150 per liter, naik dari Rp16.600 pada bulan sebelumnya, mencerminkan dinamika pasar dan biaya produksi.

CEO Pertamina New & Renewable Energy, John Anis, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional. Ia menyebut bahwa Indonesia masih berada jauh di belakang negara seperti India yang telah menerapkan E20 secara luas. Untuk mengejar ketertinggalan, Pertamina tengah mengembangkan bioetanol dari berbagai bahan baku, termasuk tebu, aren, singkong, jagung, dan sorgum.

John menekankan bahwa realisasi E50 membutuhkan dukungan kebijakan mandatori dan kepastian harga bahan baku agar industri dapat tumbuh secara berkelanjutan. Ia juga menyoroti potensi besar dari pembangunan pabrik bioetanol di berbagai daerah, yang tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pemasok bahan baku.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya