RI Siapkan BBM Campuran Bioetanol 50% untuk Kurangi Impor
Pemerintah mulai menyusun strategi pengembangan BBM campuran bioetanol E50, berdasarkan pengalaman sukses program B50, dengan dukungan Pertamina dan target pembangunan 20–30 pabrik baru dalam dua tahun.
Redaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.36 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 6x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya percepatan pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol sebagai langkah strategis menekan ketergantungan impor bahan bakar. Dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional di Istana Merdeka, ia memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk segera merancang kerangka program E50, yaitu campuran bensin dengan 50 persen bioetanol, dengan mengambil pelajaran dari implementasi B50 yang telah menunjukkan hasil positif.
Pendekatan ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terlebih dengan tingginya konsumsi BBM di dalam negeri. Bahlil menyatakan bahwa langkah selanjutnya harus berbasis pada evaluasi keberhasilan program biodiesel B50, termasuk aspek regulasi, ketersediaan bahan baku, dan keterlibatan industri. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem energi berkelanjutan yang mengedepankan produksi lokal.
Saat ini, Indonesia telah memulai penerapan bioetanol secara komersial melalui produk Pertamax Green 95, yang mengandung 5 persen bioetanol dan tersedia di sekitar 170 SPBU di Jawa Timur serta Jakarta. Harga produk ini pada September 2026 mencapai Rp19.150 per liter, naik dari Rp16.600 pada bulan sebelumnya, mencerminkan dinamika pasar dan biaya produksi.
CEO Pertamina New & Renewable Energy, John Anis, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional. Ia menyebut bahwa Indonesia masih berada jauh di belakang negara seperti India yang telah menerapkan E20 secara luas. Untuk mengejar ketertinggalan, Pertamina tengah mengembangkan bioetanol dari berbagai bahan baku, termasuk tebu, aren, singkong, jagung, dan sorgum.
John menekankan bahwa realisasi E50 membutuhkan dukungan kebijakan mandatori dan kepastian harga bahan baku agar industri dapat tumbuh secara berkelanjutan. Ia juga menyoroti potensi besar dari pembangunan pabrik bioetanol di berbagai daerah, yang tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pemasok bahan baku.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kemenkeu Tunda Pembayaran Cicilan Rp37 Triliun ke Kopdes Merah Putih
Pembayaran cicilan pinjaman Kopdes Merah Putih senilai Rp37 triliun ditunda karena belum menerima tagihan resmi dari Himbara dan kelengkapan administrasi belum selesai.
21 September 2026

Saham BYAN Melemah Meski RKAB Anak Usaha Disetujui
Saham BYAN turun 5,06% ke level Rp13.125 meski tiga anak usahanya resmi mendapat revisi RKAB 2026 dari Kementerian ESDM dengan tambahan kuota produksi 15–20 juta ton.
21 September 2026

BEI Turunkan Harga Saham Minimum Jadi Rp1 Mulai 28 September
Bursa Efek Indonesia resmi menurunkan batas harga terendah saham dari Rp50 menjadi Rp1, berlaku mulai 28 September 2026, untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi pasar.
21 September 2026

Romy Bareno Resmi Jadi Komisaris Independen InJourney Airports
PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) resmi menunjuk Romy Bareno, putra jurnalis Karni Ilyas, sebagai komisaris independen sejak 16 September 2026.
21 September 2026
Berita Lainnya

Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini
Senin, 21 September 2026, 23.18 WITA

Pemerintah Siapkan E50-B50 untuk Hemat Devisa Rp500 Triliun Tahunan
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

Prabowo Dorong Bensin dari Batu Bara untuk Kemandirian Energi
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

BYOND by BSI Perkenalkan Fitur Infaq Otomatis Terjadwal
Senin, 21 September 2026, 23.16 WITA

Dokumenter 'Skenario Sang Jenderal' Ungkap Rekayasa Pembunuhan Brigadir J
Senin, 21 September 2026, 23.12 WITA

Prancis vs Spanyol: Duel Taktik dan Kualitas di Semifinal Dunia 2026
Senin, 21 September 2026, 23.11 WITA

Argentina Melaju ke Final Piala Dunia Usai Tundukkan Inggris
Senin, 21 September 2026, 23.11 WITA

Tuchel Pertahankan Keputusan Pemain Meski Inggris Gagal ke Final
Senin, 21 September 2026, 23.11 WITA

