Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.835 di Awal Perdagangan

Nilai tukar rupiah bergerak melemah ke Rp17.835 per dolar AS pada awal perdagangan Kamis, dipengaruhi penguatan indeks dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 23.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.835 di Awal Perdagangan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada awal perdagangan Kamis (24/9/2026), dibuka di level Rp17.835 per dolar AS. Penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia menjadi faktor utama penurunan rupiah, sekaligus membalikkan posisi penguatan pada sesi sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Rabu (23/9), rupiah sempat menguat 0,31% ke posisi Rp17.795/US$, namun kembali terkoreksi pada awal hari ini.

Indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, mencatat kenaikan 0,04% ke posisi 101,132 pada pukul 09.00 WIB. Kenaikan ini melanjutkan penguatan tajam sebesar 0,49% pada penutupan perdagangan Rabu, menunjukkan dominasi aset berdenominasi dolar di pasar global. Tekanan terhadap rupiah diperkuat oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve dalam waktu dekat.

Data ekonomi AS yang dirilis baru-baru ini mendukung ekspektasi tersebut. Indeks PMI Komposit AS dari S&P Global naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September, mencatat level tertinggi sejak Juli 2021. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan pesanan baru, namun juga menunjukkan tekanan inflasi yang masih kuat. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga minimal 25 basis poin dalam pertemuan Oktober, naik dari 53% sebelumnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% pada rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026. Keputusan ini merupakan kelanjutan dari tiga pertemuan berturut-turut yang mempertahankan suku bunga di posisi yang sama sejak Juni 2026. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap fokus pada stabilitas nilai tukar, penarikan modal asing, serta pengembangan pasar keuangan.

BI juga menekankan komitmen untuk memperkuat sistem pembayaran digital dan mendukung pembiayaan ke sektor riil melalui kebijakan makroprudensial. Langkah ini bertujuan menjaga pertumbuhan ekonomi yang sehat sambil tetap menjaga keseimbangan di pasar valuta asing. Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan terus dipengaruhi oleh dinamika global, terutama kebijakan moneter AS dan sentimen pasar terhadap inflasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya