Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Awal Perdagangan Melemah, BI Pertahankan Suku Bunga

Indeks saham bergerak turun pada awal perdagangan Kamis (24/9/2026), dipengaruhi keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 23.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Awal Perdagangan Melemah, BI Pertahankan Suku Bunga📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, turun 9,93 poin atau 0,16% ke posisi 6.364,97. Gerakan penurunan terjadi seiring tekanan dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang mencatat kenaikan signifikan pada sesi sebelumnya. Pada awal sesi, indeks sempat menyentuh level terendah 6.343 dan tertinggi 6.363, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi di awal perdagangan. Sebanyak 232 saham menguat, 90 saham melemah, sedangkan 312 saham bergerak datar, dengan nilai transaksi mencapai Rp161,71 miliar dan volume perdagangan sebanyak 302,59 juta saham dalam 27.965 kali transaksi.

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75% menjadi sentimen utama pasar. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September 2026, dan sesuai dengan ekspektasi mayoritas lembaga keuangan yang disurvei. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap konsisten, dengan tidak ada perubahan pada Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. BI telah mempertahankan suku bunga acuan selama tiga rapat berturut-turut sejak Juli 2026, setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin dari level 4,75% pada Mei hingga 5,75% pada 18 Juni 2026.

Di sisi global, pasar keuangan terus memantau pergerakan imbal hasil obligasi AS yang mencatat rekor tinggi. Yield obligasi tenor 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level tertinggi sejak 2007, bahkan sempat menyentuh 5,14%. Kenaikan ini didorong oleh data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis kuat, didukung oleh kenaikan biaya input, terutama dari harga energi. Data S&P Global menunjukkan pertumbuhan aktivitas sektor manufaktur dan jasa pada September mencapai laju tercepat sejak Juli 2021, memperkuat ekspektasi The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan ketat.

Lonjakan imbal hasil ini berdampak langsung pada pasar keuangan negara berkembang seperti Indonesia. Kenaikan yield Treasury AS berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dalam lelang pemerintah, yang dapat meningkatkan beban utang negara. Selain itu, indeks dolar AS juga menguat, menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal keluar. Pasar kini menanti rilis data uang beredar serta kebijakan baru terkait perdagangan saham, sementara perhatian juga tertuju pada kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat sebagai faktor geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya