Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Naik 1,56%, Sektor Dasar Tumbuh Dipimpin BBCA dan DSSA

Indeks harga saham gabungan menguat 1,56% ke level 6.374,91, didukung kenaikan saham unggulan dan perluasan kerja sama energi hijau oleh Jababeka.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 23.17 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Naik 1,56%, Sektor Dasar Tumbuh Dipimpin BBCA dan DSSA📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan hari Rabu (23/9) dengan kenaikan signifikan sebesar 1,56%, mencapai level 6.374,91. Penguatan ini didorong oleh kenaikan tajam saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 1,61%, PT Delta Sistem Tbk (DSSA) yang melonjak 9,18%, serta PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang naik 3,80%. Sementara itu, saham-saham seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Tbk (KPIG), dan PT Astra International Tbk (ASII) mengalami koreksi, menjadi penguasa terlemah di pasar. Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp468,26 miliar di pasar reguler dan Rp461,35 miliar secara keseluruhan, menunjukkan tekanan jual dari luar negeri meski indeks menguat.

Seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona positif, dengan sektor Industri Dasar menjadi yang paling kuat dengan kenaikan 3,47%. Kenaikan ini didukung oleh sentimen positif atas revisi formula harga mineral limonit, yang diharapkan dapat memengaruhi ekonomi smelter HPAL secara signifikan. Di pasar internasional, indeks Dow Jones turun 0,68%, S&P 500 melemah 0,75%, dan Nasdaq terkoreksi 1,13%, mencerminkan tekanan pasar global. Namun, ETF EIDO dan MSCI Indonesia mampu menunjukkan kenaikan masing-masing 0,82% dan 0,81%, mengindikasikan minat terhadap pasar Indonesia yang tetap kuat.

PT Jababeka Tbk (KIJA) melanjutkan komitmen pengembangan energi hijau melalui kerja sama strategis dengan PT Pertamina (Persero). Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang telah ditandatangani dalam forum B20 Summit dan World Economic Forum G20 pada 2022. Ruang lingkup kerja sama mencakup pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, panel surya, sistem penyimpanan energi (BESS), kredit karbon, serta pengolahan limbah menjadi energi. Perseroan juga sedang mengevaluasi pemanfaatan hidrogen hijau untuk mendukung transportasi rendah karbon dalam konsep Transit Oriented Development (TOD). Fokus pengembangan hingga 2027 akan ditekankan pada hidrogen, biometana, dan potensi panas bumi, sebagai bagian dari komitmen Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) di kawasan yang saat ini menampung sekitar 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara.

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) memperluas bisnisnya di sektor hiburan dan gaya hidup Bali melalui akuisisi saham di Kharisma Jawara Abadi (KJA), dengan kepemilikan efektif 16,27%. KJA memiliki 58,36% saham KAJA Group, pengembang destinasi hiburan Zumana di Kuta, sehingga kepemilikan efektif BUVA atas Zumana mencapai sekitar 9,50%. Proyek yang berlokasi di lahan seluas 3.500 meter persegi di Sunset Bay Kuta ini dikembangkan bersama Savaya Group dan dirancang oleh Rockwell Group. Ekspansi ini menandai perluasan model bisnis BUVA dari akomodasi ke segmen beach club, F&B, dan hiburan dengan pendapatan harian. Diperkirakan kontribusi terhadap kinerja BUVA baru akan terlihat pada paruh kedua 2026 melalui bagian laba entitas asosiasi, bukan pendapatan konsolidasi.

PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) merencanakan melakukan private placement dengan menerbitkan hingga 502,87 juta saham baru seri B, setara 10% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp100 per saham, aksi korporasi ini berpotensi menghimpun dana sekitar Rp50,29 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, memenuhi kebutuhan pendanaan, serta mendukung modal kerja perseroan dan entitas anak. Berdasarkan proforma laporan semester pertama 2026, total ekuitas diproyeksikan naik 5,27% menjadi Rp1 triliun, sedangkan total aset meningkat 2,74% menjadi Rp1,88 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas diperkirakan membaik dari 0,92 kali menjadi 0,87 kali. Pemegang saham eksisting diperkirakan mengalami dilusi sekitar 9,09%, dengan kepemilikan Safire Capital Pte Ltd sebagai pengendali turun dari 61,62% menjadi 56,02%. Rencana ini masih menunggu persetujuan Rapat

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya