Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.884 per Dolar AS di Tengah Tekanan Global dan Internal

Nilai tukar rupiah berakhir melemah ke Rp17.884 per dolar AS, didorong oleh kebijakan moneter The Fed dan ketidakpastian fiskal domestik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 21.09 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.884 per Dolar AS di Tengah Tekanan Global dan Internal📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026) menunjukkan pelemahan sebesar 37 poin, berada di level Rp17.884 per dolar Amerika Serikat. Data dari JISDOR Bank Indonesia juga mencatat posisi rupiah di angka Rp17.883/USD, menggambarkan tekanan yang berkelanjutan terhadap mata uang lokal. Kondisi ini menjadi cerminan dari ketegangan pasar keuangan global yang terus memengaruhi pergerakan kurs di wilayah Asia.

Penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama penurunan rupiah, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Pasar keuangan global mengantisipasi kemungkinan kenaikan lebih lanjut pada bulan Oktober, yang memperkuat dominasi greenback sebagai aset lindung nilai. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi juga menarik aliran modal ke negara-negara maju, memperlemah mata uang emerging market seperti rupiah.

Di dalam negeri, sentimen negatif diperparah oleh perombakan pos Menteri Keuangan dan isu pelebaran defisit anggaran yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal. Ketidakpastian kebijakan ekonomi domestik memperkuat kecenderungan investor untuk menghindari aset berisiko, termasuk instrumen mata uang lokal. Hal ini memperbesar tekanan terhadap rupiah, terlebih ketika data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini tergolong minim, sehingga pasar lebih bergantung pada sinyal dari pejabat The Fed.

Menurut analis ekonomi, Ibrahim Assuaibi, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed telah mengubah dinamika pasar secara signifikan. Ia menekankan bahwa pasar telah memasukkan kemungkinan kenaikan suku bunga lagi dalam proyeksi mereka, yang secara tidak langsung memperkuat dolar AS. Dalam konteks ini, rupiah tidak bisa lepas dari tekanan eksternal, meskipun pergerakannya tetap sejalan dengan tren mata uang kawasan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya