Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Tembus Rp17.500, Dolar AS Melemah Global

Rupiah menguat signifikan ke level Rp17.500 per dolar AS, mencatatkan penutupan terkuat sejak Mei 2026, didorong pelemahan dolar global dan sentimen ekonomi domestik yang membaik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 19.32 WITA·👁 4 orang membaca· 1 hari ini · 10x dibuka
Rupiah Tembus Rp17.500, Dolar AS Melemah Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Rabu (9/9/2026) dengan penguatan tajam terhadap dolar AS, berada di posisi Rp17.500 per dolar, menguat 0,71% dari penutupan sebelumnya. Angka ini menjadi level terkuat sejak 15 Mei 2026, atau selama hampir 17 pekan terakhir. Pergerakan awal rupiah pada hari itu sudah menunjukkan kekuatan dengan penguatan 0,31% ke level Rp17.570, kemudian terus memperkuat hingga akhir sesi perdagangan. Puncak penguatan terjadi saat rupiah sempat menyentuh level Rp17.490 per dolar AS, menandai kenaikan yang konsisten sepanjang hari.

Pelemahan dolar AS secara global turut mendorong kenaikan rupiah. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,15% menjadi 98,642 pada pukul 15.00 WIB. DXY sempat menyentuh level 98,630, posisi terendah dalam hampir tiga pekan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan yen Jepang, yang kembali menarik minat investor terhadap aset berdenominasi yen menjelang pertemuan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) dan The Federal Reserve pekan depan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh BOJ telah mendorong penguatan yen, yang berdampak langsung pada melemahnya indeks dolar AS. Di sisi lain, kondisi ekonomi dalam negeri juga memberi kontribusi positif. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik menjadi 118,5 pada Agustus 2026, melampaui proyeksi sebesar 117. Peningkatan ini didorong oleh peningkatan penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi terhadap prospek ekonomi dalam enam bulan ke depan.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 109,4 dari 107,9, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat ke 127,6 dari 125,7. Peningkatan tersebut tercermin dari rasio konsumsi terhadap pendapatan yang naik menjadi 74,2% pada Agustus, dibandingkan 72,7% pada Juli. Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya aktivitas konsumsi rumah tangga, yang secara langsung mendukung pertumbuhan ekonomi domestik dan memperkuat sentimen terhadap aset keuangan lokal.

Kombinasi pelemahan dolar global dan sentimen ekonomi dalam negeri yang positif menjadi pendorong utama penguatan rupiah hari ini. Kondisi ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global, serta potensi lanjutan penguatan mata uang nasional jika tren konsumsi dan kebijakan moneter global tetap mendukung.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya