Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Siswa SMA Dorong Ekonomi Berkelanjutan Lewat Purun

Seorang siswi kelas 12 berhasil tingkatkan pendapatan perajin desa di Kalimantan Selatan melalui pengolahan purun jadi produk fungsional modern, sekaligus jaga ekosistem gambut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 09.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Siswa SMA Dorong Ekonomi Berkelanjutan Lewat Purun📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah tekanan ekologis akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah gambut Kalimantan Selatan, sebuah inisiatif berbasis kearifan lokal mulai menunjukkan dampak nyata. Tanaman purun, yang tumbuh alami di lahan basah, kini menjadi pilar ekonomi berkelanjutan bagi 126 perajin perempuan di 15 desa. Pendekatan ini tidak hanya memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, tetapi juga menjadikan perlindungan ekosistem sebagai bagian dari kehidupan ekonomi sehari-hari.

Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 dari Jakarta, memimpin program Gaia Weave dengan melihat potensi purun sebagai bahan baku bernilai tinggi. Ia mengembangkan produk-produk modern seperti tech organizer, pouch dokumen, tas, dan aksesori perkotaan, dengan desain yang sesuai tren pasar dan standar kualitas yang terukur. Tujuannya bukan hanya memperluas akses pasar, tetapi menciptakan insentif konkret agar masyarakat memilih menjaga kelembapan gambut dibanding mengeringkannya.

Dampaknya terasa nyata. Pendapatan perajin meningkat signifikan, dari rata-rata Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan menjadi sekitar Rp2,7 juta hingga Rp3 juta. Ibu Idang, salah satu perajin, menyebut hasil kerja menganyam purun kini memberi tambahan penghasilan sekitar Rp80.000 hingga Rp100.000 per hari, setelah sebelumnya hanya mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan pendapatan harian Rp40.000–Rp50.000. Kini, keterampilan yang sudah dimiliki justru menjadi sumber pendapatan tetap.

Alexandra menekankan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal material ramah lingkungan, tetapi juga keadilan ekonomi bagi pelaku di hulu rantai. Dengan sistem ketertelusuran berbasis QR, konsumen dapat mengetahui asal produk dan perjalanan produksi, memperkuat transparansi. Gaia Weave pun menargetkan jaringan lebih dari 1.000 perajin hingga 2030, sekaligus memperluas pasar ekspor dan kemitraan dengan sektor perhotelan premium.

Model ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan. Ketika sumber daya alam seperti purun diberi nilai ekonomi yang tinggi, masyarakat pun termotivasi untuk menjaga ekosistem tempat tumbuhnya. Dengan demikian, keterampilan lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga menjadi alat transformasi sosial dan ekologis yang berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya