Kamis, 17 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Terdesak ke Rp17.735/USD

Rupiah melemah ke level Rp17.735/US$ setelah The Fed resmi menaikkan suku bunga, menekan mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 19.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Terdesak ke Rp17.735/USD📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah menguatkan tekanan di akhir perdagangan Kamis (17/9/2026), menutup sesi di posisi Rp17.735 per dolar AS, melemah 0,34% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan ini dipicu oleh keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, menjadikannya 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh komite FOMC dalam pertemuan dua hari, menandai kenaikan pertama sejak Juli 2023.

Penguatan dolar AS terjadi seiring dengan inflasi AS yang masih tinggi, mencapai 3,4% secara tahunan pada Agustus 2026—masih di atas target 2% yang ditetapkan The Fed. Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa inflasi yang masih tinggi dan bertahan lama memerlukan kebijakan moneter yang tetap ketat. Ia menyatakan bahwa target inflasi belum tercapai, sehingga masih terbuka kemungkinan pengetatan lebih lanjut hingga akhir tahun.

Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) bergerak stabil di atas level 100, meski sempat melemah 0,09% pada pukul 15.00 WIB menjadi 100,157. Kenaikan suku bunga AS memperkuat daya tarik aset berdenominasi dolar, menarik aliran modal global dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Tekanan tersebut terlihat sejak awal perdagangan, ketika rupiah dibuka di level Rp17.705/US$, lalu sempat menyentuh posisi terlemah harian di Rp17.765 sebelum memperbaiki keadaan menjelang penutupan.

Pengamat pasar, Rully Arya Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga pada rapat Dewan Gubernur 22–23 September mendatang. Namun, jika rupiah terus melemah menuju kisaran Rp17.850–Rp17.900/US$, BI bisa mempertimbangkan intervensi valas atau penyesuaian suku bunga melalui SRBI sebagai respons. Ia menekankan bahwa BI memiliki beberapa instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, dengan kenaikan suku bunga menjadi pilihan terakhir jika tekanan berlanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya