Trump dan Kanada Terpuruk dalam Perang Dagang
Ketegangan perdagangan memuncak setelah Kanada menerapkan tarif 50 persen terhadap produk AS, memicu balasan dari Trump melalui Pasal 338 Undang-Undang Smoot-Hawley.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.49 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Ketegangan bilateral antara Amerika Serikat dan Kanada memburuk setelah pemerintah Kanada mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap ratusan produk impor dari AS pada 25 Agustus. Langkah tersebut menjadi respons atas ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyebut negara tetangganya sebagai "salah satu negara terburuk di dunia untuk diajak berurusan". Kedua belah pihak sebelumnya sempat berada di ambang kesepakatan, namun negosiasi terhenti karena perbedaan kebijakan yang tak terelakkan.
Kanada sebelumnya mengusulkan penurunan tarif baja dan aluminium dari 50 persen menjadi 25 persen sebagai bagian dari kompromi. Namun, keberhasilan itu terhambat oleh penolakan dari Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, yang didorong oleh lobi sektor baja dan aluminium domestik. Selain itu, penolakan terhadap pengurangan tarif untuk mobil dan truk membuat kesepakatan mengalir ke arah kegagalan. Upaya Kanada untuk membuka kembali diskusi mengenai proyek pipa minyak Keystone juga ditarik kembali setelah tidak ada kemajuan dalam perundingan utama.
Trump kemudian menindaklanjuti ancamannya dengan menerapkan tarif sebesar 50 persen terhadap ekspor Kanada senilai sekitar US$20 miliar, berdasarkan Pasal 338 Undang-Undang Tarif 1930 atau Smoot-Hawley. Aturan ini memberi wewenang presiden untuk mengenakan tarif sepihak jika dianggap ada diskriminasi terhadap produk AS. Produk yang terdampak mencakup suku cadang otomotif, kayu, furnitur, tekstil, wiski, dan peralatan hoki—mencakup sekitar 4 persen dari total ekspor Kanada ke AS.
Kanada langsung merespons dengan mengenakan tarif serupa terhadap produk AS senilai US$20 miliar, dengan sasaran barang dari negara bagian strategis seperti Wisconsin (keju), Maine (makanan laut), dan Kentucky (mesin cuci dan pengering). Tujuan utama kebijakan ini adalah memberikan tekanan politik langsung terhadap pemerintahan Trump menjelang pemilu paruh waktu di AS. Perang dagang ini bukan sekadar isu ekonomi, tetapi juga refleksi dari ketegangan diplomatik yang telah berlangsung sejak Trump kembali menjabat.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan bahwa tuntutan AS untuk menyelaraskan kebijakan perdagangan Kanada secara permanen dengan kepentingan AS dianggap membahayakan kedaulatan nasional. Ia menilai tuntutan tersebut mencerminkan dominasi ekonomi yang tidak seimbang. Kegagalan negosiasi kali ini menunjukkan kembali risiko penggunaan mekanisme tarif sepihak, yang pada masa lalu pernah memicu krisis ekonomi global, seperti pada era Depresi Besar.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Festival Indonesia 2026 Perkuat Koneksi Budaya di Melbourne
Festival Indonesia 2026 di Melbourne sukses menarik lebih dari 6.000 pengunjung dengan persembahan budaya, kuliner, dan UMKM dari berbagai daerah.
25 Oktober 2026

Ratusan Ribu Warga Israel Desak Pertanggungjawaban atas Kegagalan Keamanan
Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar di Tel Aviv menuntut penyelidikan independen atas kegagalan keamanan sebelum serangan 7 Oktober 2023, menjelang pemilu yang menentukan arah kebijakan militer dan politik negara.
25 Oktober 2026

Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran dalam Waktu Dekat
Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran, bahkan bisa terjadi besok, dengan tujuan mencegah pengembangan senjata nuklir secara permanen.
25 Oktober 2026

Kim Jong Un Kunjungi Monumen Perang Korea di Dandong
Pemimpin Korea Utara melakukan kunjungan singkat ke Dandong, China, menjelang peringatan 76 tahun kehadiran relawan Tiongkok dalam Perang Korea, dengan fokus pada simbolisme sejarah dan kebersamaan strategis.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lonjakan Pasien RS di Kalteng Akibat Kabut Asap, Kemenkes Percepat Bantuan Medis
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.29 WITA

Klaten Perluas Akses PAUD Dukung Wajar 13 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.28 WITA

Operasi Modifikasi Cuaca Turunkan Polusi Selama Acara Besar
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Presiden Tak Bisa Hentikan Gibran Secara Sepihak, Tegas Anggota DPR Gerindra
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Tito Karnavian Masuk Lima Besar Menteri dengan Kinerja Terbaik
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

PDIP Respons Ajakan PKS Periksa Ijazah Wapres Gibran
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Ledakan di Lapak Besi Tua, Tim Jibom Sterilisasi TKP
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Kumitra Jambore 2026 Dorong Integrasi UMKM Kalsel ke Pasar Nasional
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

