Wamenkeu: Peluang Bonus Demografi Hanya Tersisa 10–15 Tahun
Indonesia memiliki jendela emas 10–15 tahun ke depan untuk memanfaatkan bonus demografi, namun kesiapan SDM dan ekosistem kerja menentukan keberhasilan transformasi ekonomi.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 09.10 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa peluang emas dari bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak akan bertahan selamanya. Dalam forum kebijakan nasional, ia menyampaikan bahwa masa puncak ketergantungan penduduk—saat jumlah penduduk usia produktif mendominasi—hanya akan bertahan hingga sekitar 2035–2040. Setelah itu, pertumbuhan populasi lansia diperkirakan akan menaikkan beban sosial dan fiskal, mengancam keseimbangan ekonomi jangka panjang.
Menurut Juda, kunci utama memanfaatkan momentum ini bukan hanya pada jumlah tenaga kerja, melainkan kualitasnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi bergantung pada kesiapan sistem pendidikan, pelatihan keterampilan, akses kesehatan, serta penciptaan lapangan kerja yang relevan dengan kebutuhan industri. Tanpa pendekatan ini, potensi besar dari angkatan kerja muda akan terbuang percuma.
Ia menyampaikan peringatan keras: Indonesia tidak boleh terjebak dalam kondisi populasi yang menua sebelum berhasil menjadi negara berpendapatan tinggi. Jika produktivitas tenaga kerja tidak ditingkatkan, dan sektor swasta tidak mampu bersaing secara global, maka kesempatan emas ini akan berlalu tanpa hasil nyata. Fokus utama harus pada peningkatan kapasitas manusia dan pengembangan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam waktu dekat, Indonesia harus mempercepat reformasi struktural, termasuk di bidang pendidikan vokasi, digitalisasi lapangan kerja, dan insentif bagi investasi yang menghasilkan lapangan kerja berkualitas. Kesiapan ini menjadi kunci agar generasi muda bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi, bukan beban sosial di masa depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rupiah Terus Melemah di Atas Rp18.000/US$
Rupiah mengalami tekanan berkelanjutan dengan nilai tukar menembus level Rp18.040 per dolar AS, dipicu penguatan greenback dan penurunan persepsi investasi global.
25 Oktober 2026

BRILink Agen Fillio Dorong Inklusi Keuangan di Dumai
Layanan keuangan melalui BRILink Agen Fillio di Dumai berhasil meningkatkan akses transaksi keuangan bagi masyarakat, terutama UMKM dan lansia, sekaligus mendukung perputaran ekonomi lokal.
25 Oktober 2026

Obama: Pemilu Sela adalah Batas Terakhir Menghentikan Kebodohan Politik
Mantan Presiden AS Barack Obama menyerukan dukungan terhadap Demokrat dalam pemilu sela, menilai pemerintahan Trump telah membawa kekacauan dan kebijakan yang merusak stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.
25 Oktober 2026

Singapura Jamin Stabilitas Energi Meski RI Kurangi Ekspor Gas
Singapura menegaskan kesiapan menghadapi pemangkasan pasokan gas dari Indonesia, dengan cadangan dan diversifikasi sumber yang memadai.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca di Jakarta untuk Kurangi Polusi
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.28 WITA

Pengawal Energi Buka Pendaftaran untuk Lulusan Muda
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.26 WITA

Target PNBP ESDM 2026 Naik Jadi Rp165 Triliun
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.26 WITA

Jasa Marga Jalankan Preservasi Berkala Jalan Tol
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.25 WITA

Prabowo Bahas Pendidikan Kepemimpinan di Hambalang
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pemerintah Siapkan Rp883 Miliar untuk Diskon Transportasi Nataru
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.21 WITA

Kebijakan Pertanian Dorong Peningkatan Daya Beli Petani Lampung
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.21 WITA

Copshop: Dua Musuh dalam Sel yang Harus Bersatu
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.15 WITA

