Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wamenkeu: Peluang Bonus Demografi Hanya Tersisa 10–15 Tahun

Indonesia memiliki jendela emas 10–15 tahun ke depan untuk memanfaatkan bonus demografi, namun kesiapan SDM dan ekosistem kerja menentukan keberhasilan transformasi ekonomi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 09.10 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
Wamenkeu: Peluang Bonus Demografi Hanya Tersisa 10–15 Tahun📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa peluang emas dari bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak akan bertahan selamanya. Dalam forum kebijakan nasional, ia menyampaikan bahwa masa puncak ketergantungan penduduk—saat jumlah penduduk usia produktif mendominasi—hanya akan bertahan hingga sekitar 2035–2040. Setelah itu, pertumbuhan populasi lansia diperkirakan akan menaikkan beban sosial dan fiskal, mengancam keseimbangan ekonomi jangka panjang.

Menurut Juda, kunci utama memanfaatkan momentum ini bukan hanya pada jumlah tenaga kerja, melainkan kualitasnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi bergantung pada kesiapan sistem pendidikan, pelatihan keterampilan, akses kesehatan, serta penciptaan lapangan kerja yang relevan dengan kebutuhan industri. Tanpa pendekatan ini, potensi besar dari angkatan kerja muda akan terbuang percuma.

Ia menyampaikan peringatan keras: Indonesia tidak boleh terjebak dalam kondisi populasi yang menua sebelum berhasil menjadi negara berpendapatan tinggi. Jika produktivitas tenaga kerja tidak ditingkatkan, dan sektor swasta tidak mampu bersaing secara global, maka kesempatan emas ini akan berlalu tanpa hasil nyata. Fokus utama harus pada peningkatan kapasitas manusia dan pengembangan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam waktu dekat, Indonesia harus mempercepat reformasi struktural, termasuk di bidang pendidikan vokasi, digitalisasi lapangan kerja, dan insentif bagi investasi yang menghasilkan lapangan kerja berkualitas. Kesiapan ini menjadi kunci agar generasi muda bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi, bukan beban sosial di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya