Warga Tolak Bawa Jenazah Pejabat Korup
Setelah wafat, jenazah pejabat VOC yang dikenal keras dan menindas warga Tionghoa di Batavia tidak seorang pun bersedia menggotongnya ke pemakaman.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 40x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kematian seorang pejabat VOC pada tahun 1721 di Batavia menjadi momen puncak dari kebencian yang menumpuk selama puluhan tahun terhadap kebijakan represif yang diterapkannya. Meski menjabat sebagai kepala lembaga pengelola aset etnis Tionghoa, namanya justru melekat sebagai simbol penindasan, bukan keadilan. Ia dikenal karena memperketat pungutan pajak hingga ke ranah pribadi, bahkan memaksa keluarga membayar biaya sertifikat kematian saat sedang berduka.
Kebijakan-kebijakan itu tidak hanya membebani secara ekonomi, tetapi juga menyerang martabat manusia dalam momen paling rentan. Pajak pernikahan, pajak kematian, hingga pajak atas kuku—semua diterapkan tanpa kompromi. Pelanggaran dihukum dengan denda 25 gulden atau penjara, sehingga warga terpaksa tunduk demi menghindari nasib lebih buruk. Ketidakadilan sistemik ini menciptakan rasa takut yang mendalam dan memperdalam rasa benci terhadap sosok yang memimpin lembaga tersebut.
Ketika ajal menjemput, tradisi penghormatan terhadap pejabat tinggi tidak berlaku. Peti jenazahnya diletakkan di tengah jalan, tak seorang pun dari warga Batavia bersedia mengangkatnya. Bahkan upaya keluarganya untuk membujuk warga lokal gagal total. Tidak ada yang ingin terlibat dalam prosesi yang dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap seorang yang telah menzalimi banyak orang.
Akhirnya, keluarga terpaksa menyewa kuli lokal dengan biaya sendiri untuk membawa jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Peristiwa ini menjadi simbol balas dendam moral dari masyarakat yang selama ini terzalimi. Sejarawan mencatat bahwa kejadian ini tak sekadar kisah unik, tetapi bukti nyata bahwa kekuasaan yang dibangun atas penindasan akan berakhir dengan kehancuran reputasi, bahkan di saat kematian.
Kisah ini tetap menjadi pelajaran sejarah tentang konsekuensi dari kebijakan yang eksploitatif dan tidak peduli pada kemanusiaan. Meski telah lama berlalu, nama pejabat itu tetap dikenang bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai tokoh yang menggambarkan betapa kekuasaan tanpa keadilan akan ditinggalkan bahkan oleh alam semesta.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Hakim Batalkan Vonis Kartel Bunga, AFPI Soroti Kepatuhan Regulator
Putusan pengadilan membatalkan dakwaan kartel bunga terhadap platform pinjaman daring, dengan menilai kepatuhan terhadap arahan OJK sebagai dasar operasional yang sah.
24 Oktober 2026

Vila Eks Hitler di Alpen Terbakar, Satu Tersangka Ditahan
Sebuah bangunan bersejarah milik Adolf Hitler di pegunungan Alpen terbakar, dengan satu orang ditangkap dan penyelidikan masih berlangsung.
24 Oktober 2026

Unjuk Rasa Massal Guncang Prancis, 135 Orang Ditangkap
Aksi protes besar-besaran di berbagai kota Prancis menewaskan 135 orang ditangkap, menyusul kemarahan sosial terhadap kebijakan pemerintah dan aksi kongres partai sayap kanan.
24 Oktober 2026

Pimpinan CTIF di Singapura Tekankan Kolaborasi Intelijen Anti-Terorisme
Mayjen TNI Rio Firdianto memimpin rapat CTIF Council di Singapura, perkuat sinergi intelijen sembilan negara hadapi ancaman terorisme sekaligus peringati lima tahun berdirinya fasilitas kolaborasi tersebut.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

