Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

34 Santri Ponpes Manba'ul Hikam Masih Dirawat Akibat Dugaan Keracunan Makanan

Sebanyak 34 santri dari Ponpes Manba'ul Hikam masih menjalani perawatan di RSI Siti Hajar Sidoarjo, menyusul kejadian dugaan keracunan yang menimpa 566 santri setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Tanggulangin.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 01.38 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
34 Santri Ponpes Manba'ul Hikam Masih Dirawat Akibat Dugaan Keracunan Makanan
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kepala daerah Kabupaten Sidoarjo, Subandi, mengonfirmasi bahwa jumlah santri yang masih dirawat akibat dugaan keracunan makanan di Pondok Pesantren Manba'ul Hikam berkurang menjadi 34 orang. Semua korban yang dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo kini dalam kondisi membaik dan dipastikan dapat dipulangkan pada hari berikutnya. Kunjungan langsung oleh Bupati dilakukan untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai harapan.

Sebelumnya, sejumlah santri yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro Sidoarjo telah diperbolehkan pulang pada sore hari sebelumnya. Lima orang santri terakhir dari RSUD Notopuro dinyatakan pulih dan kembali ke rumah masing-masing, sehingga tidak ada lagi korban yang dirawat di fasilitas tersebut. Dengan demikian, seluruh santri yang masih menjalani perawatan kini berada di RSI Siti Hajar.

Insiden dugaan keracunan terjadi pada Selasa (1/9) setelah ratusan santri mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanggulangin Kali Tengah. Dari total 566 santri yang terdampak, sebagian besar mengalami gejala seperti mual, sakit perut, dan kelelahan. Kepala daerah setempat menyatakan bahwa semua korban telah mendapatkan penanganan medis yang tepat dan terkoordinasi dengan baik.

Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengeluarkan surat penghentian sementara (suspend) terhadap operasional SPPG Tanggulangin sebagai respons atas insiden tersebut. Pihak BGN Regional Jawa Timur, melalui Wakil Koordinator Teguh Bayu Wibowo, menyatakan bahwa hasil uji laboratorium terhadap makanan yang diduga menyebabkan keracunan masih dalam proses dan diperkirakan selesai dalam waktu maksimal satu minggu.

Upaya penanganan dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak terkait, termasuk instansi kesehatan dan pemerintah daerah, guna memastikan keamanan pangan dan mencegah kejadian serupa di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya