Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

428 UMKM Batik Dibina Pertamina untuk Dorong Inklusi dan Kemandirian

Pertamina memperkuat ekosistem batik nasional dengan membina 428 UMKM, termasuk pelaku usaha yang melibatkan penyandang disabilitas, dalam rangka memperluas akses ekonomi dan pelestarian budaya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 09.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
428 UMKM Batik Dibina Pertamina untuk Dorong Inklusi dan Kemandirian📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertamina kembali menunjukkan komitmennya terhadap pemberdayaan ekonomi lokal dengan memperluas program binaan UMKM batik di berbagai wilayah Indonesia. Pada peringatan Hari Batik Nasional, perusahaan mencatat sebanyak 428 pelaku usaha batik telah menerima pendampingan, menunjukkan upaya strategis dalam menghidupkan kembali industri kreatif yang berbasis budaya. Program ini tidak hanya menekankan peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran, tetapi juga membuka ruang bagi kelompok marginal untuk turut serta dalam proses ekonomi produktif.

Di Bantul, Yogyakarta, Roona Batik yang dipimpin Muhammad Syauki telah menunjukkan transformasi signifikan. Dengan kapasitas produksi hingga 5.000 lembar tiap bulan dan omzet mencapai Rp100 juta, usaha ini menjadi contoh nyata bagaimana batik dapat menjadi mesin pencipta lapangan kerja. Dari total 18 karyawan, delapan di antaranya merupakan penyandang disabilitas yang aktif dalam proses produksi, menunjukkan bahwa keterampilan dapat menjadi fondasi inklusi yang berkelanjutan.

Di wilayah lain, seperti Yogyakarta dan Riau, pelaku usaha batik lainnya juga menunjukkan kinerja impresif. Batik Jinggar, yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih, mampu mencatat omzet serupa, Rp100 juta per bulan, dengan delapan tenaga kerja, termasuk dua penyandang disabilitas. Sementara itu, Canting Batik Tulis Riau milik Novita Hermawan berhasil mencapai omzet Rp150 juta per bulan dengan mengangkat motif tradisional daerah dan melibatkan lima penyandang disabilitas dari total delapan pekerja. Keberhasilan ini menegaskan bahwa inovasi desain dan nilai budaya bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Program Sriekandi Patra di Boyolali menjadi salah satu wadah paling khas dalam penerapan prinsip inklusivitas. Melalui pelatihan membatik, peserta mendapatkan keterampilan, modal usaha, serta akses ke workshop permanen. Produk yang dihasilkan kini tidak hanya batik dan oleh-oleh khas, tetapi juga paket edukasi dan kolaborasi dengan desainer muda, membuka peluang pasar baru. Menurut pernyataan resmi dari perusahaan, inisiatif ini menegaskan bahwa kemandirian ekonomi bisa tumbuh dari keterampilan yang didukung akses dan kesempatan.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa tujuan utama pembinaan ini adalah menciptakan ruang ekonomi yang inklusif, di mana budaya dan kemandirian saling mendukung. Ia menekankan bahwa batik bukan sekadar produk, tetapi medium yang mampu mengangkat peran masyarakat, termasuk kelompok disabilitas, dalam ekosistem ekonomi yang lebih adil. Dengan pendekatan berkelanjutan, Pertamina berharap UMKM batik dapat naik kelas, memperluas pasar, dan berkontribusi pada penguatan industri kreatif nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya