Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

80 Siswa SMP Makale Dirawat Usai Konsumsi MBG, Pemeriksaan Sisa Makanan Dilakukan

Sebanyak 80 siswa SMPN 1 dan 2 Makale, Tana Toraja, dirawat di tiga rumah sakit setelah mengalami gejala tak sehat usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari sebelumnya, sementara pihak berwenang masih menyelidiki penyebab pastinya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 14.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
80 Siswa SMP Makale Dirawat Usai Konsumsi MBG, Pemeriksaan Sisa Makanan Dilakukan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Delapan puluh siswa dari dua sekolah menengah pertama di Makale, Kabupaten Tana Toraja, harus dilarikan ke rumah sakit pada Kamis (3/9) karena mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (2/9). Keluhan mulai muncul pada malam hari, dengan sebagian besar siswa mengeluh sakit perut, mual, dan demam saat tiba di sekolah. Salah satu orang tua korban mengungkapkan bahwa menu yang disajikan meliputi nasi, ayam, sayur, tempe, dan melon, yang kemudian diduga menjadi penyebab masalah kesehatan.

Kepala Satgas MBG Kabupaten Tana Toraja, Rudy Andi Lolo, mengonfirmasi adanya 80 siswa yang dirawat di tiga rumah sakit daerah. Namun, ia menegaskan bahwa belum dapat menyimpulkan penyebab pasti gangguan tersebut, termasuk kemungkinan kaitan dengan MBG. Ia menekankan bahwa makanan dari program tersebut belum sempat dibagikan pada hari kejadian, sehingga belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama.

Untuk memastikan penyebabnya, pihak satgas telah memerintahkan pengambilan sampel sisa makanan dan bahan muntahan dari para siswa untuk dianalisis lebih lanjut. Proses ini penting untuk mengecualikan atau mengonfirmasi dugaan keracunan, serta menelusuri kemungkinan faktor lain seperti konsumsi makanan di luar sekolah atau minum air yang terkontaminasi.

Rudy menegaskan bahwa keracunan makanan tidak dapat dikonklusikan hanya berdasarkan waktu munculnya gejala. Dalam kasus ini, terdapat jeda lebih dari 12 jam antara konsumsi makanan dan munculnya gejala, yang menurutnya tidak sesuai dengan pola keracunan akut. Oleh karena itu, semua kemungkinan masih dalam proses penyelidikan secara ilmiah dan menyeluruh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya