Airlangga Soroti Ketidakseimbangan Penilaian MSCI terhadap Pasar Saham Indonesia
Menteri Koordinator Perekonomian menekankan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski IHSG anjlok 11%, dan mempertanyakan keputusan MSCI yang mempertimbangkan penurunan status pasar Indonesia.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 17.52 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 40x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan hingga 11% pada akhir pekan, merosot ke level 5.203, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Menko Airlangga Hartarto menegaskan bahwa gejolak tersebut lebih didorong oleh sentimen ketimbang kondisi ekonomi yang lemah. Ia menekankan pentingnya membedakan antara tekanan emosional pasar dan realitas fundamental perekonomian nasional yang tetap stabil.
Airlangga menyoroti bahwa dinamika pasar saat ini tidak mencerminkan kesehatan ekonomi Indonesia secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa sejumlah indikator makroekonomi, termasuk pertumbuhan, inflasi, dan kinerja fiskal, tetap dalam koridor yang terkendali. “Kita punya dasar fundamental yang kuat, namun yang sedang berjalan sekarang adalah faktor sentimen pasar yang berlebihan,” tegasnya dalam pernyataan terkini.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap keputusan yang sedang dipertimbangkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) ke kategori terpisah (standalone market). Menurutnya, langkah tersebut menimbulkan pertanyaan, mengingat lembaga pemeringkat lainnya tidak menilai kondisi pasar Indonesia secara negatif.
Airlangga mempertanyakan konsistensi MSCI, terutama terkait pendekatan yang dinilainya terlalu sering mengandalkan tenggat waktu atau deadline dalam penilaian. Ia menilai pentingnya objektivitas dan konsistensi dalam penilaian pasar global, terlebih ketika pemimpin MSCI yang berinteraksi dengan pemerintah bukan merupakan analis langsung dari lembaga tersebut. Ia berharap investor dapat menilai informasi secara kritis, membedakan antara sentimen pasar dan data fundamental.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Elektabilitas PSI Berada di Bawah NasDem dalam Survei IPO
Survei IPO menunjukkan elektabilitas PSI mencapai 2,9 persen, berada di posisi kesembilan dari 18 partai, tertinggal dari NasDem yang meraih 4,2 persen.
25 Oktober 2026

Cak Imin Dorong Pemberdayaan bagi Penerima Bansos
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menekankan pentingnya anggaran pemberdayaan untuk penerima bantuan sosial guna kurangi ketergantungan dan tingkatkan kemandirian ekonomi.
25 Oktober 2026

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Fokus Tindak Pengguna HP dan Pelanggaran Berbahaya
Operasi Patuh 2026 resmi digelar mulai 26 Oktober hingga 8 November, menekankan penindakan terhadap pelanggaran seperti penggunaan ponsel saat berkendara, melawan arus, dan pelanggaran lain yang terdeteksi kamera ETLE.
25 Oktober 2026

Dana Otsus Aceh Harus Dorong Kemandirian Fiskal Pasca-2027
Direktur Jenderal Bina Adwil menegaskan bahwa Dana Otsus Aceh perlu menjadi pendorong kemandirian fiskal melalui pengelolaan yang transparan dan berorientasi hasil sejak 2027.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Gubernur Kalbar Tekankan Penyelesaian BBM dan Listrik dalam Rapat Koordinasi
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.24 WITA

Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin Gagal Digagalkan Tim Gabungan
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.23 WITA

Widodo AS Tutup Usia, Pemimpin TNI Pertama dari Angkatan Laut
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.23 WITA

Pemprov DKI Siapkan Relokasi Pedagang Selama Revitalisasi Taman Puring
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.22 WITA

Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik Menurut Survei Nasional
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.21 WITA

Ribuan Bakat Muda Bersaing di Blispi Youth Cup 2026
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.21 WITA

Gereja Taman Harapan Resmi Beroperasi Setelah 25 Tahun Menunggu
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.21 WITA

Jakarta Tumbuh di Tengah Tantangan Global
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.20 WITA

