Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Airlangga Soroti Ketidakseimbangan Penilaian MSCI terhadap Pasar Saham Indonesia

Menteri Koordinator Perekonomian menekankan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski IHSG anjlok 11%, dan mempertanyakan keputusan MSCI yang mempertimbangkan penurunan status pasar Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 17.52 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 40x dibuka
Airlangga Soroti Ketidakseimbangan Penilaian MSCI terhadap Pasar Saham Indonesia📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan hingga 11% pada akhir pekan, merosot ke level 5.203, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Menko Airlangga Hartarto menegaskan bahwa gejolak tersebut lebih didorong oleh sentimen ketimbang kondisi ekonomi yang lemah. Ia menekankan pentingnya membedakan antara tekanan emosional pasar dan realitas fundamental perekonomian nasional yang tetap stabil.

Airlangga menyoroti bahwa dinamika pasar saat ini tidak mencerminkan kesehatan ekonomi Indonesia secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa sejumlah indikator makroekonomi, termasuk pertumbuhan, inflasi, dan kinerja fiskal, tetap dalam koridor yang terkendali. “Kita punya dasar fundamental yang kuat, namun yang sedang berjalan sekarang adalah faktor sentimen pasar yang berlebihan,” tegasnya dalam pernyataan terkini.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap keputusan yang sedang dipertimbangkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) ke kategori terpisah (standalone market). Menurutnya, langkah tersebut menimbulkan pertanyaan, mengingat lembaga pemeringkat lainnya tidak menilai kondisi pasar Indonesia secara negatif.

Airlangga mempertanyakan konsistensi MSCI, terutama terkait pendekatan yang dinilainya terlalu sering mengandalkan tenggat waktu atau deadline dalam penilaian. Ia menilai pentingnya objektivitas dan konsistensi dalam penilaian pasar global, terlebih ketika pemimpin MSCI yang berinteraksi dengan pemerintah bukan merupakan analis langsung dari lembaga tersebut. Ia berharap investor dapat menilai informasi secara kritis, membedakan antara sentimen pasar dan data fundamental.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya