Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Anak Krakatau Kembali Meletus, Kawasan Masih Dilarang Masuk

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Kamis malam, dengan durasi hampir lima menit, sementara aktivitas vulkanik masih dipantau dan area sekitar kawah tetap dilarang dikunjungi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Anak Krakatau Kembali Meletus, Kawasan Masih Dilarang Masuk📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Kamis (8/10) malam, dengan letusan terjadi sekitar pukul 18.28 WIB. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), durasi erupsi tercatat selama 4 menit 45 detik, dengan amplitudo maksimum sebesar 46 milimeter pada seismogram. Meskipun tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut, aktivitas vulkanik tetap terus dipantau secara intensif.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno, mengonfirmasi bahwa erupsi tersebut merupakan bagian dari proses pelepasan energi sisa setelah gelombang erupsi besar yang terjadi pada bulan September lalu. Ia menekankan bahwa status gunung masih berada pada Level II atau Waspada, sehingga tidak ada peningkatan risiko, namun tetap diperlukan kehati-hatian.

Menurut Suwarno, meski tidak terlihat adanya abu vulkanik akibat kabut, pemantauan terus dilakukan melalui seismogram dan pengamatan visual dari pos pengamatan. Ia mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati kawasan gunung, khususnya dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif, sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi bahaya yang masih mengancam.

Dosen Teknologi Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Happy Christin Natalia, menjelaskan bahwa aktivitas saat ini menunjukkan ciri khas gunung api aktif pascaerupsi besar. Ia menyatakan bahwa perubahan intensitas erupsi kecil masih mungkin terjadi selama energi tersisa belum sepenuhnya terlepas. Menurutnya, penurunan aktivitas kegempaan vulkanik menjadi salah satu indikator utama menuju kondisi stabil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya