Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dua Bulan Pasca-Gempa, Pendidikan dan Kesehatan di NTT Masih Darurat

Dua bulan setelah gempa 7,7 magnitudo mengguncang Flores, fasilitas pendidikan dan kesehatan di NTT masih beroperasi dalam kondisi darurat, dengan sekolah di tenda dan alat medis rusak total.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 09.05 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Dua Bulan Pasca-Gempa, Pendidikan dan Kesehatan di NTT Masih Darurat📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Hampir dua bulan berlalu sejak gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, namun di kawasan paling terdampak seperti Kabupaten Manggarai Timur dan Nagekeo, kehidupan masyarakat belum beranjak dari kondisi darurat. Padahal pemerintah telah menyatakan fase pemulihan dan rekonstruksi telah dimulai. Kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di tenda darurat, layanan kesehatan dilakukan di bangunan sementara, dan ratusan keluarga terus tinggal di tempat pengungsian tanpa kepastian pembangunan hunian sementara.

Di SD Inpres Maki, Desa Satar Kampas, 186 siswa dari sembilan rombongan belajar harus menempuh proses belajar di dua tenda bantuan yang disediakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta BNPB. Tanpa meja dan kursi, para murid duduk di atas terpal yang terbuka, sementara papan tulis rusak akibat gempa. Guru kelas dua, Sinta Narti, mengungkapkan kesulitan besar dalam mengajar karena keterbatasan fasilitas, terutama saat cuaca panas, yang membuat anak-anak kesulitan berkonsentrasi. Kepala sekolah, Andi Suryani, menyatakan kekhawatiran utama saat ini adalah kelangsungan proses belajar saat musim hujan tiba, mengingat tenda yang ada tidak cukup menampung semua siswa dan rentan rusak akibat angin kencang.

Di bidang kesehatan, kondisi tidak jauh lebih baik. Puskesmas Pota di Manggarai Timur telah dipindahkan ke tenda karena bangunan utama runtuh. Kepala Puskesmas, dokter Hindrayanti, mengungkapkan hampir semua alat kesehatan, termasuk alat laboratorium dan tensi, rusak dan tertimbun reruntuhan. Sebagian peralatan yang digunakan kini berasal dari peralatan pribadi tenaga medis yang sempat diselamatkan. Karena sistem pendingin (cool chain) rusak, imunisasi bagi anak-anak terhambat, dan pemeriksaan darah serta tes laboratorium sederhana pun tidak dapat dilakukan.

Kondisi sanitasi yang buruk, minimnya akses air bersih, serta debu yang menyebar di area pengungsian menyebabkan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan penyakit kulit. Dokter Regina Novita dari Puskesmas Pota menekankan bahwa pelayanan kesehatan masih berjalan, namun jauh dari standar ideal. Pasien rawat jalan, rawat inap, bahkan persalinan tetap dilayani, tetapi tidak semua mendapatkan tempat tidur layak dan penyimpanan obat terganggu karena suhu tinggi.

Kegagalan distribusi bantuan, keterlambatan verifikasi kerusakan, serta akses yang terbatas di wilayah terpencil menjadi penghambat utama proses pemulihan. Menurut ahli manajemen kebencanaan, kondisi ini menunjukkan celah dalam penanganan bencana nasional, terutama dalam menjangkau komunitas terisolasi. Dengan belum meratanya distribusi bantuan dan kapasitas pemerintah daerah yang terbatas, kerentanan masyarakat yang sudah ada sebelum bencana justru kian memburuk.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya