Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Angin Duduk Bukan Masuk Angin, Ini yang Harus Diketahui

Istilah “angin duduk” menggambarkan nyeri dada akibat kurangnya aliran darah ke jantung, bukan akibat paparan angin, dan perlu segera ditangani agar tidak berkembang jadi serangan jantung.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 18.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Angin Duduk Bukan Masuk Angin, Ini yang Harus Diketahui
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Istilah “angin duduk” kerap disalahpahami sebagai kondisi ringan akibat paparan angin malam, padahal secara medis ia merujuk pada angina pektoris—nyeri dada yang muncul ketika otot jantung kekurangan oksigen karena aliran darah terhambat. Kondisi ini tidak berkaitan dengan “masuk angin”, meskipun masyarakat sering menganggap keduanya sama. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa persepsi tersebut keliru dan dapat menunda pengobatan yang krusial.

Gejala utama angin duduk meliputi rasa tekanan, sesak, atau nyeri menjalar dari dada ke lengan, leher, rahang, atau punggung. Disertai pula gejala seperti keringat dingin, mual, sesak napas, dan pusing. Gejala ini biasanya muncul saat aktivitas fisik atau stres, namun pada bentuk tidak stabil, bisa terjadi bahkan saat beristirahat, yang merupakan tanda bahaya tinggi mengarah pada serangan jantung.

Perbedaan mendasar antara angina dan serangan jantung terletak pada tingkat keparahan dan kestabilan aliran darah. Angina stabil dapat membaik setelah istirahat, sementara angina tidak stabil merupakan kondisi darurat yang menunjukkan kerusakan pembuluh koroner yang mengancam nyawa. Jika aliran darah terhenti total, otot jantung mulai rusak—dengan waktu respons yang sangat kritis, di mana setiap menit menentukan prognosis pasien.

Faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya angina meliputi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, stres kronis, dan riwayat keluarga penyakit jantung. Karena sebagian besar faktor tersebut terkait gaya hidup, pencegahan dimulai dari perubahan pola makan, olahraga rutin, penghentian rokok, serta pemeriksaan kesehatan berkala.

Jika muncul nyeri dada yang berat, berlangsung lebih dari beberapa menit, atau disertai gejala lain seperti sesak napas dan keringat dingin, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunda karena menunggu gejala menghilang sendiri dapat berakibat fatal. Mengenali gejala dan tidak mengabaikannya merupakan kunci utama dalam mencegah komplikasi serius pada sistem kardiovaskular.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya