Angin Duduk Bukan Masuk Angin, Ini yang Harus Diketahui
Istilah “angin duduk” menggambarkan nyeri dada akibat kurangnya aliran darah ke jantung, bukan akibat paparan angin, dan perlu segera ditangani agar tidak berkembang jadi serangan jantung.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 18.40 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 11x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Istilah “angin duduk” kerap disalahpahami sebagai kondisi ringan akibat paparan angin malam, padahal secara medis ia merujuk pada angina pektoris—nyeri dada yang muncul ketika otot jantung kekurangan oksigen karena aliran darah terhambat. Kondisi ini tidak berkaitan dengan “masuk angin”, meskipun masyarakat sering menganggap keduanya sama. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa persepsi tersebut keliru dan dapat menunda pengobatan yang krusial.
Gejala utama angin duduk meliputi rasa tekanan, sesak, atau nyeri menjalar dari dada ke lengan, leher, rahang, atau punggung. Disertai pula gejala seperti keringat dingin, mual, sesak napas, dan pusing. Gejala ini biasanya muncul saat aktivitas fisik atau stres, namun pada bentuk tidak stabil, bisa terjadi bahkan saat beristirahat, yang merupakan tanda bahaya tinggi mengarah pada serangan jantung.
Perbedaan mendasar antara angina dan serangan jantung terletak pada tingkat keparahan dan kestabilan aliran darah. Angina stabil dapat membaik setelah istirahat, sementara angina tidak stabil merupakan kondisi darurat yang menunjukkan kerusakan pembuluh koroner yang mengancam nyawa. Jika aliran darah terhenti total, otot jantung mulai rusak—dengan waktu respons yang sangat kritis, di mana setiap menit menentukan prognosis pasien.
Faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya angina meliputi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, stres kronis, dan riwayat keluarga penyakit jantung. Karena sebagian besar faktor tersebut terkait gaya hidup, pencegahan dimulai dari perubahan pola makan, olahraga rutin, penghentian rokok, serta pemeriksaan kesehatan berkala.
Jika muncul nyeri dada yang berat, berlangsung lebih dari beberapa menit, atau disertai gejala lain seperti sesak napas dan keringat dingin, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunda karena menunggu gejala menghilang sendiri dapat berakibat fatal. Mengenali gejala dan tidak mengabaikannya merupakan kunci utama dalam mencegah komplikasi serius pada sistem kardiovaskular.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pupuk Indonesia Perkuat Irigasi di 5 Wilayah, Dorong Ketahanan Pangan
Pupuk Indonesia bersama Rabu Biru Foundation resmikan infrastruktur irigasi di lima daerah untuk tingkatkan akses air bagi petani lahan tadah hujan.
26 Oktober 2026

Indonesia Butuh Lebih Banyak Penulis Naskah Film Profesional
Ketua BPI ungkap industri film lokal kekurangan talenta, terutama penulis naskah, meski lulusan perfilman jumlahnya melimpah namun hanya sedikit yang masuk ke industri.
26 Oktober 2026

Adegan Pernikahan Chandler Bing Menggambarkan Harapan Terdalam Perry
Keluarga Matthew Perry mengungkapkan kesedihan mendalam saat menyaksikan adegan pernikahan Chandler dan Monica, yang mencerminkan keinginan abang mereka untuk memiliki keluarga di tengah perjuangan melawan kecanduan.
26 Oktober 2026

Ubed Siap Laga Penentu di Final French Open 2026
Tunggal putra Indonesia, Moh Zaki Ubaidillah, melangkah ke final French Open 2026 setelah menaklukkan unggulan Prancis dalam pertandingan sengit tiga gim.
26 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lula Menang Pilpres Brasil, Ulangi Sejarah sebagai Presiden Terlama
Senin, 26 Oktober 2026, 09.29 WITA

Singapura Tanggapi Pemangkasan Ekspor Gas RI dengan Langkah Hukum
Senin, 26 Oktober 2026, 09.29 WITA

Pembayaran Gaji ASN Tetap Melalui Perbankan
Senin, 26 Oktober 2026, 09.29 WITA

Indonesia Siap Tentukan Nasib Rating Pasar Modal Sendiri
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

9 Perusahaan Siap Melantai di Bursa, Tiga Punya Aset Jumbo
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

Asing Jual Bersih Rp8,73 Triliun, 10 Saham Ini Paling Dijual
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

Asing Borong Saham Unggulan, IHSG Akhiri Pekan Naik 1,21%
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

IHSG Diproyeksi Naik Terbatas dengan Risiko Koreksi
Senin, 26 Oktober 2026, 09.25 WITA

