Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Perkuat Kendali di Selat Hormuz, Ancam Hancurkan Iran

Amerika Serikat meningkatkan tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran, dengan serangan terhadap fasilitas IRGC di Selat Hormuz, sambil memperingatkan hukuman berat bagi yang berani melawan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 22.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AS Perkuat Kendali di Selat Hormuz, Ancam Hancurkan Iran
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kamis (5/9/2026), militer Amerika Serikat mengonfirmasi operasi militer terhadap sejumlah target terkait Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di kawasan strategis Selat Hormuz. Aksi ini dilakukan seiring dengan upaya Washington untuk memperkuat dominasi di jalur maritim vital, sekaligus menekan ekonomi Iran melalui sanksi dan isolasi finansial. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memaksa Teheran kembali ke meja negosiasi.

Namun, Presiden Donald Trump menolak tudingan bahwa tujuan utamanya adalah perundingan. Ia menegaskan bahwa posisi AS kini jauh lebih kuat, dengan kendali nyaris penuh atas Selat Hormuz dan ekonomi Iran yang sedang runtuh. Dalam pernyataan di media sosial, Trump menyatakan bahwa serangan balasan yang lebih dahsyat masih disimpan, dengan ancaman keras jika Iran berani membalas. “Kami tidak butuh perjanjian yang tidak berarti. Kini, kami berada di atas, dan Iran akan merasakan dampak yang jauh lebih besar,” tegasnya.

Iran menanggapi dengan melaporkan serangan yang menewaskan lima warga sipil, termasuk seorang anak, dalam ledakan di desa Kuhestak, Provinsi Hormozgan. Wakil Gubernur Hormozgan, Ahmad Nafisi, menyebut lokasi tersebut menjadi sasaran serangan yang menghancurkan pesta pernikahan. Sementara itu, Komando Pusat AS membantah tudingan tersebut, menegaskan bahwa semua operasi bertujuan menghancurkan infrastruktur militer, bukan warga sipil. “Kami tidak menargetkan penduduk, berbeda dengan IRGC yang sering menyerang warga tak bersalah,” ujar juru bicara militer AS.

Eskalasi ini berdampak luas, termasuk serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Yordania, di mana 10 rudal berhasil dicegat dan tiga lainnya jatuh di area tak berpenghuni. Di sisi lain, Uni Emirat Arab melaporkan telah menembak jatuh drone asal Iran. IRGC menanggapi dengan ancaman balasan, menyatakan bahwa para agresor akan menghadapi hukuman berat. Di tengah ketegangan, harga minyak mentah dunia melonjak 7 persen dalam sepekan, sementara harga bensin reguler di AS naik menjadi US$4,10 per galon.

Pemerintah AS merespons dengan menerbitkan peringatan perjalanan baru untuk seluruh wilayah Timur Tengah, menyerukan kewaspadaan tinggi bagi warganya dan kedutaan. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa potensi serangan balasan mematikan bisa terjadi kapan saja tanpa pemberitahuan. Eskalasi militer ini menunjukkan keberlanjutan strategi tekanan maksimal, yang kini menimbulkan risiko krisis regional yang lebih luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya