Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Tebal Akibat Karhutla Guyur Palembang Pagi Hari

Kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Palembang, mengganggu visibilitas dan menimbulkan keluhan kesehatan di kalangan warga.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 12.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 15x dibuka
Asap Tebal Akibat Karhutla Guyur Palembang Pagi Hari📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kota Palembang kembali dilanda kabut asap tebal pada Selasa pagi, 20 Oktober, akibat kebakaran hutan dan lahan yang meluas di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang menurun drastis, bahkan hanya beberapa meter di beberapa titik. Warga yang beraktivitas di luar ruangan terpaksa mengenakan masker, sementara pengendara mobil dan sepeda motor memilih menyalakan lampu meskipun hari masih pagi.

Kualitas udara di Palembang mencatat level sangat tidak sehat pada Senin (19/10), dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 215,6 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas aman yang ditetapkan WHO. Dampak langsung terasa bagi warga, seperti sesak napas, mata perih, dan iritasi saluran pernapasan. Salah satu pegawai negeri, Diah Gunderi, mengungkapkan bahwa kondisi asap hari ini jauh lebih parah dibandingkan sehari sebelumnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terdapat 44 titik kebakaran tersebar di berbagai wilayah di Sumatera Selatan. Mayoritas kebakaran diduga berasal dari aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali. Upaya pemadaman terus dilakukan, namun kendala cuaca kering dan angin kencang menyulitkan proses penanggulangan.

Warga meminta pemerintah segera mengambil langkah tegas dan koordinatif untuk menekan jumlah kebakaran serta menjamin kesehatan masyarakat. Mereka berharap agar penanganan karhutla tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga mencegah agar kejadian serupa tidak berulang di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya