B50 dan Kendaraan Listrik Bisa Saling Melengkapi
Pengembangan biodiesel B50 di Indonesia dinilai mampu mendukung reduksi emisi tanpa mengabaikan progres kendaraan listrik, dengan pendekatan multipathway yang realistis untuk kondisi nasional.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Penerapan biodiesel B50 di Indonesia dinilai sebagai langkah strategis dalam transformasi energi, sekaligus alternatif yang dapat berjalan bersama kendaraan listrik. Menurut pakar energi dari Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Reksowardojo, kebijakan ini tidak harus saling menyingkirkan, melainkan bisa menjadi pendekatan komplementer dalam memenuhi target pengurangan emisi kendaraan. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan kenyataan geografis dan infrastruktur yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia.
Kendaraan listrik, meski menjadi fokus global, belum dapat diimplementasikan secara merata di seluruh daerah, terutama di wilayah terpencil yang minim akses listrik dan stasiun pengisian daya. Dalam konteks itu, B50 hadir sebagai solusi energi lokal yang telah terbukti efektif. Indonesia dinilai unggul sebagai pemrakarsa dan pelaksana penerapan B50 secara massal, dengan tingkat mandatori mencapai 50 persen—jauh melampaui rata-rata global yang hanya sekitar 7 persen di Eropa dan Amerika.
Iman menegaskan bahwa keberhasilan B50 bukan hanya terlihat dari sisi lingkungan, tetapi juga dampak ekonomi dan pertanian. Penerapan ini mendorong kemandirian energi, menyerap produk pertanian lokal, serta mengurangi ketergantungan impor minyak. Ia menilai bahwa kebijakan energi harus dibangun secara bijak, bukan dengan memaksa satu solusi tunggal. Kedua jalur—biofuel dan kendaraan listrik—harus diperkuat secara bersamaan.
Pendekatan multipathway menjadi kunci, di mana berbagai teknologi kendaraan—termasuk mesin pembakaran internal efisien, hybrid, EV, dan biofuel—dapat berkembang secara paralel. Indonesia memiliki keunggulan strategis, terutama sebagai produsen nikel yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik. Namun, hal itu tidak berarti harus mengecualikan penggunaan energi berbasis biodiesel. Keduanya bisa saling melengkapi, menjadikan transisi energi lebih inklusif dan berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Range Rover Sport Electric Hadir dengan Performa Tinggi dan Jarak Tempuh 602 km
Range Rover Sport Electric resmi meluncur dengan tenaga 542 hp, torsi 850 Nm, dan jarak tempuh hingga 602 km, menawarkan pengalaman berkendara premium berbasis listrik.
30 September 2026

Layanan Samsat Bantu Selesaikan Blokir Kendaraan Akibat ETLE
Masyarakat kini bisa menyelesaikan administrasi kendaraan yang terblokir akibat pelanggaran ETLE langsung di kantor Samsat dengan pelayanan terintegrasi.
30 September 2026

Penjualan Mobil Listrik Melonjak, Periklindo Sebut Indonesia di Jalur Benar
Lonjakan penjualan mobil listrik dari 40 ribu menjadi 103 ribu unit menunjukkan kemajuan nyata dalam transisi energi hijau di Indonesia.
30 September 2026

Insentif Otomotif Berbasis Emisi Diperluas untuk Semua Teknologi Ramah Lingkungan
Periklindo usulkan insentif berbasis emisi gas buang agar mencakup berbagai kendaraan ramah lingkungan, bukan hanya mobil listrik, demi inklusivitas dan penurunan polusi.
30 September 2026
Berita Lainnya

Wajib Sertifikat Halal 18 Oktober 2026, Produk Berbahan Haram Wajib Tandai "Non Halal
Rabu, 30 September 2026, 17.45 WITA

Pemerintah Atur Penggunaan Anak Usaha Tambang untuk Dukung Ekonomi Lokal
Rabu, 30 September 2026, 17.45 WITA

OJK Resmi Bubarkan Dana Pensiun BASF Indonesia
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Astra Graphia Siap Bagi Dividen Rp297 per Saham
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.870/US$ di Akhir September
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

BI Perkuat Stabilitas Rupiah Lewat Kebijakan Strategis
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Telkom Lanjutkan Transformasi dengan Pemisahan Infrastruktur
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Rupiah Pulih, Kurs Dolar Menurun dari Puncak Rp18.300
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

