Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan 586 Orang

Bencana banjir bandang dan tanah longsor di perbatasan Nepal dan Tibet menewaskan 586 orang, dengan 2.478 lainnya masih hilang hingga Sabtu pagi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet Tewaskan 586 Orang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet terus meningkat, mencapai 586 jiwa hingga hari Sabtu (29/8) pagi. Data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Nepal menyebutkan 579 korban tewas, sementara wilayah Tibet melaporkan tujuh korban jiwa. Jumlah orang yang belum ditemukan mengalami lonjakan signifikan, dari 1.400 menjadi 2.478 dalam waktu kurang dari 24 jam, menunjukkan dampak luas bencana yang melanda kawasan pegunungan tersebut.

Tim pencarian dan pertolongan (SAR) dari wilayah Tibet telah menjangkau lokasi utama yang porak poranda akibat longsoran besar. Kondisi medan yang sulit dan akses terputus mempersulit upaya evakuasi, terutama di daerah terpencil yang terdampak parah. Pemerintah Nepal telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir susulan, menyerukan masyarakat untuk segera berpindah ke area yang lebih tinggi, menyusul laporan jebolnya sebuah bendungan di wilayah Tibet.

Sejumlah negara telah menawarkan bantuan kemanusiaan, termasuk Kanada yang siap menyalurkan bantuan senilai US$3,6 juta (sekitar Rp63,9 miliar), serta Uni Eropa yang menjanjikan dana sebesar US$2,3 juta (sekitar Rp40,8 miliar). Upaya bantuan ini mendesak mengingat diperkirakan hingga 93 ribu orang terdampak langsung oleh banjir bandang.

Awalnya, bencana dikaitkan dengan gempa bumi yang memicu longsoran es dan batuan di Sungai Lhende Khola, namun analisis dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menegaskan tidak ada aktivitas gempa sebelum insiden terjadi. Video rekaman menunjukkan kepanikan warga yang berlarian mencari tempat aman saat air, lumpur, dan material batuan menghancurkan bangunan dan kendaraan dalam hitungan detik. Nepal, sebagai negara pegunungan, kembali menghadapi ancaman bencana alam musiman, terutama selama masa hujan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya