Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Banjir Bandang Perbatasan Nepal-China Tewaskan 919 Orang, 4.793 Hilang

Bencana banjir bandang dan longsor di perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus menewaskan 919 orang dan menyebabkan 4.793 lainnya hilang, dengan dampak meluas hingga wilayah India dan Tibet.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Banjir Bandang Perbatasan Nepal-China Tewaskan 919 Orang, 4.793 Hilang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bencana alam besar melanda kawasan perbatasan Nepal dan China pada 26 Agustus, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan luas akibat banjir bandang serta tanah longsor. Menurut laporan resmi dari Badan Bencana Nasional Nepal, 903 jiwa telah dinyatakan tewas dan 4.247 orang masih hilang di wilayah tersebut. Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilanjutkan, meskipun kondisi medan yang terjal dan cuaca buruk menghambat upaya tim.

Di wilayah Tibet, China melaporkan 16 korban tewas dan 546 orang hilang, sebagian besar di wilayah pegunungan utara. Dengan gabungan data dari kedua negara, total korban tewas mencapai 919 orang, sementara jumlah orang yang belum ditemukan mencapai 4.793. Peristiwa ini dipicu oleh longsoran gletser seluas 5.200 meter persegi beserta material batuan dari pegunungan Himalaya, yang menyebabkan terbentuknya bendungan alami di Sungai Lhender Khola.

Ketika air terus menumpuk di balik bendungan sementara tersebut, tekanan meningkat hingga akhirnya bendungan jebol. Air bah yang meluap kemudian menghantam wilayah Tibet, China, serta sebagian utara dan tengah Nepal. Dampaknya meluas hingga ke wilayah Uttar Pradesh, India, di mana tim lokal menemukan 17 jenazah yang diduga merupakan korban dari bencana tersebut.

Pemerintah Nepal menyatakan telah mengerahkan semua sumber daya untuk menangani krisis, termasuk operasi pencarian dan evakuasi. Meskipun sejumlah negara menawarkan bantuan tim penyelamat, pihak berwenang Nepal memilih menolak bantuan tersebut. Alasannya, negara merasa mampu menangani operasi sendiri dan lebih membutuhkan bantuan kemanusiaan dalam bentuk dana maupun logistik untuk mendukung korban terdampak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya