Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

NASA Soroti Lonjakan Kebakaran di Papua dan Kalimantan

NASA mencatat kebakaran hutan dan lahan di Papua serta Kalimantan mencapai level tertinggi sepanjang 2026, didorong El Niño dan aktivitas manusia, dengan emisi karbon melampaui rekor sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 23.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
NASA Soroti Lonjakan Kebakaran di Papua dan Kalimantan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - NASA mengungkapkan peningkatan signifikan aktivitas kebakaran di wilayah Papua dan Kalimantan sepanjang 2026, khususnya di bagian selatan Papua Nugini dan Indonesia bagian timur. Dalam laporan resminya, badan antariksa Amerika Serikat menyatakan kondisi kering ekstrem akibat El Niño telah menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap kebakaran, terutama di daerah yang sebelumnya tidak terlalu terdampak. Data satelit menunjukkan area yang terbakar menyebar luas, dengan asap tebal yang teramati hingga bulan Oktober.

Emisi karbon akibat kebakaran di Papua Nugini telah mencapai hampir 32 juta ton hingga 17 Oktober 2026, melampaui catatan tahunan sebelumnya pada periode yang sama. Angka ini diperkirakan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan, bahkan melampaui level pada tahun 1997 yang dikenal sebagai salah satu kebakaran terparah dalam sejarah. Di wilayah Papua Indonesia, emisi karbon telah menembus 35 juta ton, menempatkannya sebagai yang ketiga tertinggi setelah 2015 dan 1997 — dua periode El Niño kuat sebelumnya.

Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan infrastruktur. Polusi udara yang tinggi menyebabkan penundaan penerbangan, penutupan sekolah, serta imbauan penggunaan masker khusus bagi lansia dan anak-anak. Citra satelit dari NOAA-20 yang diambil pada 11 Oktober menunjukkan asap tebal mengepul dari wilayah selatan Pulau Papua, dengan kabut yang bertahan selama berminggu-minggu sejak September. Ilmuwan NASA, Robert Field, menyebut asap tersebut tidak hanya memburuk kualitas udara di permukaan, tetapi juga dapat mengganggu pola cuaca dan sirkulasi atmosfer.

Peneliti menyatakan bahwa sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, termasuk pembakaran lahan untuk pertanian, pengelolaan padang rumput, pembukaan hutan, dan perburuan. Di Papua Indonesia, ekspansi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, pertambangan, serta perkotaan telah mendorong deforestasi yang signifikan. Data Global Forest Watch mencatat kehilangan 27.000 hektare hutan primer pada 2025 — jumlah tertinggi sejak 2017 dan hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

NASA memperkirakan kebakaran akan berlanjut hingga hujan lebat musim penghujan tiba, biasanya pada awal November. Dengan kondisi curah hujan yang hanya 5%-10% dari normal sejak Agustus, keringnya berkepanjangan di sejumlah wilayah selatan Papua Nugini — bahkan tanpa hujan selama lebih dari 90 hari — memperparah risiko kebakaran tak terkendali.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya