Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Beban Produksi Meningkat, Industri Plastik Hadapi Tekanan Kinerja

Kenaikan beban pokok penjualan dan utang jangka pendek mengancam profitabilitas emiten plastik, terutama akibat belum terealisasinya relaksasi bea masuk bahan baku 0%.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 12.11 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Beban Produksi Meningkat, Industri Plastik Hadapi Tekanan Kinerja📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah emiten sektor plastik hilir di Indonesia mencatat peningkatan signifikan dalam beban pokok penjualan (COGS) dan kewajiban jangka pendek, terutama utang bank, seiring dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Data laporan keuangan semester pertama 2026 menunjukkan kenaikan COGS antara 12% hingga 52% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya, sementara utang bank jangka pendek mengalami kenaikan dua digit. Tekanan ini diperparah oleh belum terlaksananya kebijakan bea masuk impor bahan baku sebesar 0% yang diharapkan dapat meringankan beban produksi.

Beberapa emiten seperti PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP), dan PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) berhasil mencatatkan laba meskipun di tengah tekanan, bahkan mengalihkan posisi rugi menjadi untung. Namun, PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) justru mengalami penurunan laba bersih. Kenaikan biaya produksi yang terus berlanjut berpotensi menekan margin laba dan membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen pada tahun buku 2026.

Sekjen Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia, Henry Chevalier, menegaskan bahwa kenaikan COGS bukan hanya disebabkan oleh harga bahan baku, tetapi juga faktor struktural seperti biaya logistik dan pendanaan. Ia menyatakan bahwa kebijakan relaksasi bea masuk 0% untuk bahan baku masih menunggu realisasi, padahal kepastian regulasi sangat dibutuhkan untuk menjaga daya saing industri dalam negeri. Ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam menerapkan relaksasi bea masuk anti dumping, namun menekankan pentingnya konsistensi kebijakan agar tidak menimbulkan ketidakpastian.

Analis Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi, menjelaskan bahwa fluktuasi harga minyak global dan gangguan pasokan naphtha—bahan baku utama petrokimia—berdampak langsung terhadap harga resin, yang kemudian menaikkan biaya produksi kemasan plastik. Di tengah pelemahan daya beli konsumen, perusahaan kesulitan menyalurkan kenaikan biaya tersebut kepada pelanggan. Sementara itu, kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin ke level 3,75–4% berdampak pada kenaikan suku bunga bank lokal, yang menambah beban bunga perusahaan.

Tantangan tambahan datang dari oversupply produk plastik dari China, yang memiliki efisiensi produksi lebih tinggi dan biaya lebih rendah. Hal ini menimbulkan risiko kompetitif bagi produsen dalam negeri yang belum mampu menurunkan biaya secara signifikan. Yosua menilai tahun 2026 menjadi ujian ketahanan perusahaan, di mana investor perlu memperhatikan tidak hanya pertumbuhan pendapatan, tetapi juga kemampuan menjaga margin kotor, mengendalikan leverage, dan memitigasi beban keuangan. Jika harga bahan baku dan logistik normal pada 2027, emiten yang telah melakukan penyesuaian harga dan efisiensi berpotensi memperoleh pemulihan margin dan laba.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya