Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BEI Perpanjang Suspensi Saham WIKA Akibat Tunda Pembayaran Obligasi dan Sukuk

Bursa Efek Indonesia memperpanjang suspensi perdagangan saham WIKA karena emiten BUMN tersebut gagal membayar pokok dan bunga obligasi serta pendapatan bagi hasil sukuk pada 8 September 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 19.31 WITA·👁 3 orang membaca· 1 hari ini · 8x dibuka
BEI Perpanjang Suspensi Saham WIKA Akibat Tunda Pembayaran Obligasi dan Sukuk📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi memutuskan melanjutkan penghentian sementara perdagangan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) di seluruh pasar hingga ada pengumuman lebih lanjut. Keputusan ini berdasarkan surat resmi nomor Peng-SPT-00018/BEI.PP2/09-2026 yang dikeluarkan pada 8 September 2026, menindaklanjuti ketidakmampuan perusahaan untuk menunaikan kewajiban keuangan yang telah jatuh tempo.

Perusahaan yang bergerak di sektor konstruksi dan infrastruktur tersebut gagal membayar sejumlah pokok dan pendapatan bagi hasil dari obligasi dan sukuk yang diterbitkan. Diantaranya adalah pembayaran pokok Seri B Obligasi Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap I Tahun 2021 (WIKA02BCN1) dan Seri B Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap I Tahun 2021 (SMWIKA02BCN1). Selain itu, bunga ke-20 untuk Seri B dan Seri C obligasi, serta pendapatan bagi hasil ke-20 untuk Seri B dan Seri C sukuk juga belum diselesaikan.

BEI menilai penundaan pembayaran tersebut mencerminkan adanya tantangan serius terhadap kelangsungan operasional WIKA. Meski perusahaan telah mengajukan rencana restrukturisasi, belum ada bukti konkret bahwa kewajiban finansial akan dipenuhi dalam waktu dekat. Keputusan suspensi merupakan langkah protektif untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi kepentingan investor.

Saham WIKA yang sebelumnya terus terpantau dalam kondisi terparkir di level Rp204 per saham, kini mengalami penundaan perdagangan berkepanjangan. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan tercatat sebesar Rp8,13 triliun, menunjukkan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan dan persepsi pasar terhadap kredibilitas emiten BUMN tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya