Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Kurangi Intervensi Spot, Fokus ke Instrumen Berjangka

Bank Indonesia memangkas intervensi di pasar spot hingga 30 persen, beralih ke instrumen berjangka seperti DNDF dan NDF demi menjaga cadangan devisa dan efektivitas stabilitas nilai tukar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 09.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
BI Kurangi Intervensi Spot, Fokus ke Instrumen Berjangka📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Indonesia kini mempertimbangkan kembali strategi intervensi nilai tukar rupiah dengan mengurangi penggunaan pasar spot secara signifikan. Porsi intervensi di pasar spot kini berada pada level sekitar 30 persen dari total aktivitas intervensi, menunjukkan pergeseran kebijakan yang lebih berkelanjutan. Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pendekatan sebelumnya yang dominan melalui penjualan langsung dolar AS di pasar spot telah berdampak besar pada cadangan devisa, sehingga perlu penyesuaian strategis.

Alih-alih mengandalkan transaksi tunai di pasar spot, BI kini lebih memfokuskan intervensi pada instrumen kontrak berjangka, khususnya domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF). Dengan pendekatan ini, bank sentral mampu menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus menguras cadangan devisa secara langsung. Destry menegaskan bahwa metode ini dinilai lebih efisien dan dapat diterapkan secara lebih fleksibel dalam menghadapi tekanan pasar.

Menurutnya, pengurangan intervensi di pasar spot bukan berarti mengabaikan stabilitas rupiah, melainkan menyesuaikan pendekatan agar lebih berkelanjutan. Ia menyebut bahwa tekanan terhadap nilai tukar tetap ada, baik dari faktor global maupun struktural di dalam negeri, termasuk ketergantungan pada impor dan ketidakseimbangan neraca perdagangan. Oleh karena itu, solusi jangka panjang harus menyentuh fondasi ekonomi, terutama di sektor eksternal.

Destry menekankan bahwa kemandirian nilai tukar tidak bisa hanya dijaga melalui intervensi moneter, melainkan harus dibarengi dengan penguatan fundamental ekonomi. Ini termasuk upaya memperkuat ekspor, menarik investasi langsung, serta mendorong arus investasi portofolio yang stabil. Dengan begitu, stabilitas rupiah dapat terjaga tanpa ketergantungan berlebihan pada intervensi pasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya