BI Perkuat Stabilitas Eksternal di Tengah Gejolak Global
Bank Indonesia memperkuat stabilitas eksternal melalui insentif likuiditas dan instrumen lindung nilai, menyusul tekanan inflasi global dan kenaikan suku bunga AS.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 17.54 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Bank Indonesia memilih pendekatan konsisten terhadap stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang memuncak pada pertengahan 2026. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa prioritas utama lembaga tersebut adalah menjaga keseimbangan eksternal, terlepas dari dinamika geopolitik yang memengaruhi harga komoditas dan arus modal global. Kenaikan harga minyak hingga menyentuh level USD132 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan pasar, meski kemudian turun kembali di bawah USD100 pada akhir September.
Diproyeksikan, pertumbuhan ekonomi global tahun ini berada di kisaran 3,0%, dengan tekanan inflasi yang meningkat hingga 4,6%. Kebijakan moneter global, khususnya dari Federal Reserve AS, bergerak lebih ketat dengan kenaikan suku bunga acuan (FFR) menjadi 3,75–4,00% pada September 2026. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan defisit anggaran pemerintah AS memperkuat dominasi dolar AS, yang berdampak pada penurunan daya tarik aset negara berkembang. Hal ini mendorong BI untuk memperkuat sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal guna menjaga ketahanan eksternal sekaligus mendorong pertumbuhan domestik.
Di dalam negeri, prospek ekonomi tetap optimistis. Pertumbuhan diperkirakan mencapai 4,9–5,7% pada 2026, didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi swasta, serta kembali positifnya neraca perdagangan. Cadangan devisa juga terjaga pada level yang memadai. Namun, Gubernur Destry menekankan perlunya kebijakan tambahan untuk menghadapi kondisi suku bunga tinggi yang berkepanjangan (higher for longer), terutama dalam menghadapi risiko hedging yang semakin mahal bagi pelaku pasar.
Untuk meredam tekanan tersebut, BI memperbarui insentif bagi instrumen Swap Beli Lindung Nilai Konvensional. Premi ditekan dari 12,5% menjadi 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan 25% untuk satu tahun. Sementara itu, insentif untuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) ditingkatkan dengan diskon premi dari 15% menjadi 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk tenor satu tahun. Tujuannya adalah mendorong aliran modal asing masuk melalui portofolio dan investasi langsung, sekaligus memperkuat likuiditas rupiah di pasar.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Siapkan Insentif Pajak Rp576 Triliun untuk Dorong Ekonomi 2026
Pemerintah menyiapkan insentif pajak senilai Rp576,4 triliun pada 2026 untuk mendorong konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi di sektor kunci.
23 September 2026

Defisit APBN 2026 Diproyeksikan Meningkat Jadi 2,85% dari PDB
Proyeksi defisit anggaran 2026 naik menjadi 2,85% dari PDB akibat perubahan asumsi makro dan kebutuhan fiskal yang meningkat.
23 September 2026

BI Perkuat Insentif Swap Lindung Nilai untuk Stabilkan Rupiah
Bank Indonesia tingkatkan diskon premi swap lindung nilai hingga 25% untuk tenor 12 bulan guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
23 September 2026

Koleksi Uang 2022 Bertanda Tangan Purbaya-Perry Diperbolehkan BI
Bank Indonesia memastikan uang kertas emisi 2022 dengan tanda tangan mantan pejabat tetap sah dan dapat digunakan, meski telah dikoleksi karena nilai numismatiknya.
23 September 2026
Berita Lainnya

DPD RI Dorong RUU Kecerdasan Buatan dengan Kolaborasi Lembaga Terkemuka
Rabu, 23 September 2026, 17.57 WITA

Rapat Istana Bahas Ekspansi Pendidikan Gratis hingga Perguruan Tinggi
Rabu, 23 September 2026, 17.56 WITA

Bensin dari Batu Bara Butuh Investasi Raksasa
Rabu, 23 September 2026, 17.56 WITA

KRL INKA Terlambat dan Ditarik dari Operasi
Rabu, 23 September 2026, 17.56 WITA

Petani Tebu Minta HET Gula Dicabut Akibat Beban Pupuk Naik
Rabu, 23 September 2026, 17.56 WITA

Danantara Diminta Dukung Proyek Bensin dari Batu Bara
Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA

Manajer Koperasi Desa Ditetapkan sebagai Pegawai BUMN dengan Kontrak Dua Tahun
Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA

IHSG Lonjak 1,4% Didorong Sektor Konsumer dan Energi
Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA

