BI Perkuat Stabilitas Rupiah Lewat Strategi Intervensi Baru
Bank Indonesia memperbarui pendekatan intervensi pasar valuta asing untuk menjaga nilai tukar rupiah di tengah tekanan dolar AS mendekati Rp18.000, dengan fokus pada pasar non-deliverable forward.
Redaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 17.56 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dengan menyesuaikan strategi intervensi di pasar valuta asing. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa penurunan ketergantungan pada intervensi di pasar spot—yang dinilai lebih mahal dan berdampak pada cadangan devisa—telah menjadi prioritas utama. Kini, proporsi intervensi di pasar spot dipertahankan di angka sekitar 30%, sementara sisanya difokuskan pada pasar DNDF dan NDF yang dinilai lebih efisien dan ramah terhadap cadangan devisa.
Pasar DNDF dan NDF, yang kini telah dikembangkan secara signifikan oleh bank sentral, menjadi instrumen utama dalam menanggulangi tekanan nilai tukar. Menurut Destry, efektivitas intervensi di dua pasar tersebut meningkat seiring dengan peningkatan likuiditas dan transparansi, sehingga mampu meredam fluktuasi kurs tanpa harus menguras cadangan devisa secara besar-besaran. Ia menekankan bahwa pergeseran strategi ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional.
Kebijakan moneter yang lebih terarah ini, menurut Gubernur BI, akan berjalan optimal jika didukung oleh kebijakan fiskal yang sinergis. Ia menyebut pentingnya koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mengatasi permasalahan fundamental dan struktural, seperti ketergantungan impor dan rendahnya daya saing ekspor. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Destry menekankan bahwa stabilitas kurs tidak bisa dicapai secara unilateral, melainkan harus melibatkan sektor publik dan swasta.
Upaya penguatan ekspor dan peningkatan kualitas investasi, baik langsung maupun portofolio, menjadi bagian integral dari strategi tersebut. BI terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mendorong program yang mendorong ekspor komoditas unggulan serta menarik investasi berkelanjutan. Dengan pendekatan terpadu ini, bank sentral berharap mampu menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil meskipun di tengah tekanan global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Tawaran Rp443 T Ditolak, Akuisisi Emas Global Gagal
Northern Star menolak tawaran akuisisi senilai Rp443 triliun dari Gold Fields karena dianggap belum mencerminkan nilai aset perusahaan.
28 September 2026

Rupiah Sentuh Rp17.965, Dekati Level Psikologis Rp18.000
Rupiah melemah 0,53% ke posisi Rp17.965 per dolar AS, menyusut mendekati ambang psikologis Rp18.000 akibat kekuatan dolar global dan kenaikan suku bunga The Fed.
28 September 2026

Haji Isam Dikabarkan Incar Saham BCA, Perusahaan Bantah Tegas
Kabar rencana akuisisi saham BCA oleh pengusaha Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam dibantah secara resmi oleh pihak bank, yang menegaskan informasi tersebut tidak benar.
28 September 2026

DPR Desak BI Perkuat Rupiah Berdasarkan Fundamental
Komisi XI DPR menekankan perlunya kebijakan BI yang konsisten memperkuat rupiah sesuai kondisi ekonomi nasional, bukan sekadar menjaga stabilitas melalui pelemahan bertahap.
28 September 2026
Berita Lainnya

Mahkamah Konstitusi Thailand Hadapi Ujian Kerahasiaan Suara
Senin, 28 September 2026, 18.00 WITA

Impor Udang Ilegal Diamankan, Trenggono Tekankan Perlindungan Pembudidaya
Senin, 28 September 2026, 17.59 WITA

PT Ceria Nugraha Indotama Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Senin, 28 September 2026, 17.58 WITA

Trump dan AI Pendidikan RI Jadi Sorotan Global
Senin, 28 September 2026, 17.58 WITA

Netanyahu Rahasia Temui Pemimpin UEA di Abu Dhabi
Senin, 28 September 2026, 17.57 WITA

Wajib Halal 2026: 7 Kategori Produk Wajib Sertifikasi
Senin, 28 September 2026, 17.56 WITA

Toba Surimi Perbarui Kepemimpinan, Beston Barto Jabat Dirut Baru
Senin, 28 September 2026, 17.56 WITA

BI Tahan Suku Bunga Acuan, Destry Tekankan Evaluasi Berkelanjutan
Senin, 28 September 2026, 17.56 WITA

