Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Pertahankan Suku Bunga, Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah penguatan dolar AS dan inflasi global yang tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 17.53 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
BI Pertahankan Suku Bunga, Fokus Jaga Stabilitas Rupiah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penguatan dolar AS terus menjadi isu krusial bagi stabilitas ekonomi nasional, seiring kebijakan moneter ketat yang diterapkan Federal Reserve. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin oleh The Fed, yang kini berada di level 3,75–4 persen, mendorong penguatan dolar terhadap mata uang utama lainnya. Indeks dolar AS (DXY) mencapai 101,11, sementara di kawasan Asia berada di posisi 96,26, mencerminkan tekanan yang berkelanjutan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Kondisi tersebut diperparah oleh inflasi global yang mencapai 4,6 persen, yang disebabkan oleh lonjakan harga komoditas energi akibat ketegangan geopolitik, terutama di wilayah Timur Tengah. Harga minyak mentah pada 24 September 2026 bahkan mencapai US$125,53 per barel, jauh melampaui rata-rata bulan Agustus 2026 yang sebesar US$90,88. Tekanan ini berpotensi melemahkan neraca pembayaran Indonesia dan menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sehingga perlu respons strategis dari bank sentral.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI memilih mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada September 2026. Keputusan ini didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap risiko ekonomi, termasuk dampak suku bunga terhadap pertumbuhan dan stabilitas harga. Destry menegaskan bahwa inflasi inti tetap terkendali di sekitar 2 persen, sementara inflasi umum berada pada 3,19 persen, yang sebagian besar dipengaruhi oleh fluktuasi harga pangan, bukan tekanan permintaan domestik. Oleh karena itu, penanganan inflasi pangan membutuhkan sinergi lintas sektor, bukan hanya kebijakan moneter.

Dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar, BI akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa dan menjaga likuiditas pasar melalui operasi moneter repo untuk surat berharga non-SBN. Kebijakan ini akan dilaksanakan mulai Oktober 2026, bekerja sama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). Selain itu, BI fokus memperdalam pasar uang dan valuta asing, mendorong diversifikasi mata uang dalam transaksi internasional, serta memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT) untuk mendukung ekspor dan investasi.

Upaya strategis lainnya mencakup penguatan likuiditas renminbi China dan yen Jepang, pengembangan produk hedging bagi investor asing, serta perluasan kerja sama pembayaran lintas negara dengan bank sentral mitra. Langkah-langkah ini bertujuan memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, dengan pendekatan yang berimbang antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya