Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BLDF Tanam 5.000 Bibit Mangrove di Bali untuk Konservasi Pesisir

Bakti Lingkungan Djarum Foundation menanam 5.000 bibit mangrove di Denpasar sebagai bagian dari upaya pelestarian ekosistem pesisir dan penguatan ketahanan daratan melalui kolaborasi lintas sektor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 12.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
BLDF Tanam 5.000 Bibit Mangrove di Bali untuk Konservasi Pesisir
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melaksanakan penanaman 5.000 bibit mangrove di kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, dalam rangka mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Green Action Mangrove Bali 2026 yang menekankan pentingnya konservasi alam sebagai benteng alami terhadap abrasi dan perubahan iklim. Penanaman dilakukan di area yang telah menjadi fokus rehabilitasi karena potensi kerusakan akibat aktivitas manusia dan perubahan lingkungan.

Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, menegaskan bahwa mangrove berperan strategis dalam menjaga kestabilan daratan di kawasan pesisir Bali. Menurutnya, akar-akar mangrove mampu menahan erosi dan memperkuat struktur tanah, sehingga menjadi solusi alam yang tidak bisa digantikan oleh bangunan buatan. Ia menyambut baik kegiatan ini sebagai bentuk komitmen nyata dalam membangun kawasan pesisir yang lebih tahan terhadap ancaman lingkungan.

Sebagai pendukung kegiatan, BLDF juga meluncurkan fasilitas Living Laboratory Mangrove, yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran lapangan terintegrasi. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung penelitian ilmiah, edukasi lingkungan, pengembangan ekowisata, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Melalui pendekatan berbasis kolaborasi, BLDF ingin memastikan bahwa penanaman mangrove tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi dan partisipasi aktif generasi muda serta lembaga akademik.

Dalam pernyataannya, Director of Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari komitmen sebelumnya, termasuk penanaman 10.000 bibit di wilayah yang sama pada 2022 dan 2024. Ia menyampaikan harapan agar kawasan ini menjadi pusat kolaborasi lintas sektor, di mana ilmu, kebijakan, dan aksi nyata bersinergi demi keberlanjutan lingkungan. Dukungan dari pemerintah provinsi, kelompok usaha bersama, mahasiswa, dan kreator konten lingkungan menjadi bukti kuat bahwa pelestarian ekosistem memerlukan partisipasi kolektif.

Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi mangrove. Ia menilai bahwa tanpa pendampingan ilmiah dan keterlibatan masyarakat, upaya penanaman bisa gagal dalam jangka panjang. Fasilitas Living Laboratory, menurutnya, menjadi langkah maju karena menciptakan ruang terbuka bagi penelitian berkelanjutan dan pengembangan solusi lokal yang berdampak luas secara ekologis, sosial, dan ekonomi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya