Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Boeing 747 Selamat Setelah Mesin Mati Akibat Abu Vulkanik

Pesawat Boeing 747 berhasil mendarat darurat setelah empat mesinnya padam akibat terhisap abu vulkanik saat terbang di atas Gunung Galunggung pada 1982.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.38 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Boeing 747 Selamat Setelah Mesin Mati Akibat Abu Vulkanik
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada 24 Juni 1982, sebuah pesawat Boeing 747 milik British Airways terbang pada ketinggian sekitar 37 ribu kaki saat melintasi awan abu dari erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat. Dalam kondisi tersebut, abu vulkanik yang mengandung silika SiO2 terhisap ke dalam empat mesin jet, menyebabkan suhu ekstrem di ruang bakar mencapai 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius. Partikel silika yang meleleh akibat panas kemudian membeku di bilah turbin saat mencapai area lebih dingin, mengakibatkan kerak kaca yang mengganggu aliran udara dan menyebabkan pembakaran berhenti secara total.

Tanpa tenaga mesin, pesawat bergerak dalam kondisi meluncur bebas selama puluhan kilometer. Dalam situasi kritis ini, kru pesawat dipimpin Kapten Eric Moody berhasil mempertahankan kontrol pesawat hingga keluar dari area awan abu. Ketika suhu turun dan partikel silika yang meleleh mendingin serta rontok, mesin dapat dinyalakan kembali. Pendaratan darurat kemudian dilakukan secara aman di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, tanpa korban jiwa.

Abu vulkanik berbeda dari awan biasa karena terdiri dari fragmen batuan mikroskopis, silika tajam, dan mineral berujung tajam yang bersifat sangat abrasif. Saat terhisap dalam kecepatan tinggi, partikel-partikel ini merusak kaca kokpit hingga buram, mengganggu sensor pitot tube yang mengukur kecepatan udara, serta mengikis komponen internal mesin. Ketika masuk ke dalam mesin turbofan, abu vulkanik dapat menyebabkan penumpukan kerak yang mengganggu aerodinamika dan berujung pada kegagalan total sistem pembakaran.

Selain kerusakan mesin, abu vulkanik juga berpotensi memicu gangguan listrik statis akibat gesekan antarpartikel halus. Fenomena ini dapat menghasilkan St. Elmo’s Fire di permukaan kaca kokpit dan menimbulkan interferensi pada sistem komunikasi radio. Selain itu, kandungan asam pada abu dapat menyebabkan korosi pada perangkat elektronik sensitif serta mencemari sistem pengondisian udara kabin yang bergantung pada aliran udara dari mesin.

Ahli bencana dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa abu vulkanik sangat berbahaya bagi keselamatan penerbangan karena sifatnya yang abrasif dan kemampuannya mengganggu berbagai sistem kritis pesawat. Ia menilai tindakan penghentian sementara penerbangan di sejumlah bandara saat terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan langkah preventif yang tepat guna mencegah kejadian serupa. Kesadaran akan risiko abu vulkanik harus terus ditingkatkan dalam perencanaan operasional penerbangan di wilayah rawan erupsi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya