Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Brunei dan Filipina Dilanda Kabut Asap dari Karhutla Kalimantan

Kualitas udara di Brunei dan Filipina memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, dengan indeks polusi mencapai level sedang hingga sangat tidak sehat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 05.52 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Brunei dan Filipina Dilanda Kabut Asap dari Karhutla Kalimantan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi atmosfer di Brunei Darussalam mulai memburuk dalam beberapa hari terakhir, didorong oleh kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan, Indonesia. Badan Meteorologi Brunei Darussalam mencatat dominasi angin barat daya yang membawa partikel asap dari titik panas utama di Kalimantan Tengah dan Barat. Kementerian Kesehatan Brunei telah mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan demi mencegah gangguan kesehatan.

Pemantauan citra satelit oleh Pusat Meteorologi Khusus ASEAN menunjukkan lonjakan jumlah titik panas pada 27 hingga 29 Agustus 2026, dengan puncak pada 28 Agustus mencapai 1.734 titik. Angka tersebut mengindikasikan intensitas kebakaran yang tinggi dan berkelanjutan. Indeks Standar Polutan (PSI) di empat distrik Brunei berada pada kategori "baik" hingga "sedang", dengan nilai tertinggi tercatat di Brunei-Muara sebesar 73, diikuti Tutong (70), Temburong (63), dan Belait (50).

Di Filipina, situasi serupa terjadi, terutama di wilayah Metro Manila, yang dilaporkan mengalami kualitas udara dalam kategori "sangat tidak sehat" hingga "sangat tidak sehat akut". Badan Manajemen Lingkungan dari Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR) menyatakan bahwa tingginya kadar partikel halus PM2.5 disebabkan oleh aliran asap dari kebakaran di Kalimantan yang terbawa angin. Masyarakat diminta menghindari aktivitas di luar ruangan, terutama bagi yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.

Sebagai respons darurat, pemerintah Kota Quezon di Filipina menunda pembelajaran tatap muka di semua sekolah negeri dan mendorong sekolah swasta menerapkan pembelajaran jarak jauh. Sensor lokal menunjukkan kualitas udara berbahaya, sehingga masyarakat diminta memakai masker dan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Langkah ini menyerupai respons sebelumnya yang diambil Malaysia dan Singapura saat menghadapi dampak serupa dari karhutla di Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya