Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Cegah Puso Akibat El Nino, Pemerintah Perkuat Mitigasi di Lahan Sawah

Pemerintah optimistis dampak El Nino terhadap pertanian pada 2026 bisa ditekan, dengan target gagal panen hanya 18 ribu hektare, lebih rendah dari tahun 2023.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 20.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Cegah Puso Akibat El Nino, Pemerintah Perkuat Mitigasi di Lahan Sawah📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Pertanian melaporkan bahwa luas lahan pertanian yang mengalami puso pada tahun 2026 diperkirakan mencapai 18 ribu hektare, angka yang lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 25 ribu hektare. Penurunan ini dianggap hasil dari upaya mitigasi yang telah dipersiapkan sejak awal, terutama melalui peningkatan akses air melalui pompanisasi dan perbaikan sistem irigasi di area rawan kekeringan.

Upaya strategis ini dilakukan secara masif di sentra-sentra produksi padi, termasuk wilayah seperti Subang, Jawa Barat, yang menjadi pusat pengamatan kebijakan pertanian nasional. Menteri Pertanian menegaskan bahwa kesiapan jauh sebelum musim kering berdampak menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional meski menghadapi fenomena El Nino.

Selain infrastruktur air, pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan metode pertanian modern seperti Program Mekanisasi dan Pengelolaan Tanah (PM AAS), yang mampu meningkatkan hasil panen dari rata-rata 5 ton per hektare menjadi 10 ton, bahkan hingga 11 ton pada beberapa lokasi. Penggunaan benih unggul yang tahan kekeringan juga menjadi bagian penting dari strategi mitigasi tersebut.

Hingga bulan Oktober 2026, produksi beras nasional telah mencapai lebih dari 31,4 juta ton. Dengan proyeksi tambahan produksi sekitar 1,5 juta ton hingga akhir tahun, pemerintah meyakini bahwa penurunan produksi akibat El Nino akan terjadi dalam kisaran yang sangat terbatas, bahkan bisa diabaikan secara nasional.

Pendekatan komprehensif yang melibatkan teknologi, manajemen air, dan perbaikan produktivitas ini menjadi bukti kesiapan sistem pertanian Indonesia menghadapi tantangan iklim. Dengan pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, pemerintah yakin produksi pangan tetap terjaga meski kondisi cuaca ekstrem terjadi di sejumlah wilayah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya