Senin, 21 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China dalam Ingatan Islam: Dari Peradaban Tang hingga Kekuatan Global

China pada masa kejayaan Dinasti Tang telah menjadi simbol peradaban maju dalam tradisi Islam, meski ungkapan “tuntutlah ilmu hingga ke China” tidak terbukti sebagai sabda Nabi, namun memperlihatkan kedekatan historis melalui perdagangan dan budaya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 09.21 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 4x dibuka
China dalam Ingatan Islam: Dari Peradaban Tang hingga Kekuatan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada abad ke-7 Masehi, saat Nabi Muhammad hidup di Makkah, China sedang memasuki masa keemasan melalui kekuasaan Dinasti Tang yang berdiri pada 618 M. Kekuasaan Li Yuan sebagai Kaisar Gaozu menandai awal era stabilitas politik dan ekonomi yang memungkinkan pembangunan infrastruktur, penguatan perdagangan, serta pertukaran budaya lintas benua. Meskipun secara geografis jauh dari Jazirah Arab, China telah dikenal di dunia Islam lewat jaringan perdagangan yang menghubungkan Asia Timur dengan Timur Tengah.

Produk-produk unggulan dari China seperti sutra, keramik, kertas, dan logam mulai menyebar melalui jalur darat Sutra dan jalur maritim, yang menyambungkan pelabuhan China dengan kota-kota dagang di Asia Selatan, Timur Tengah, dan bahkan Afrika Timur. Melalui interaksi para pedagang, tidak hanya barang-barang bernilai tinggi yang berpindah, tetapi juga pengetahuan teknologi, seni, dan keilmuan yang membentuk citra China sebagai pusat peradaban maju di mata masyarakat Arab.

Makkah, sebagai pusat perdagangan utama di Jazirah Arab, menjadi salah satu titik temu informasi global. Melalui para pedagang yang datang dari berbagai wilayah, termasuk China, masyarakat Arab mendapatkan gambaran tentang negeri yang kaya, berbudaya tinggi, dan memiliki sistem pemerintahan terorganisir. Meskipun tidak ada bukti langsung bahwa Nabi Muhammad menyebutkan China secara eksplisit, ungkapan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” telah menjadi simbol penghargaaan terhadap China sebagai tempat pengetahuan, meski status keabsahannya sebagai sabda Nabi diperdebatkan oleh para ulama hadis.

Kisah awal kedekatan Islam dan China didukung oleh jejak perdagangan Muslim ke wilayah Tiongkok, terutama di pelabuhan Guangzhou pada masa Dinasti Tang. Beberapa sumber menyebutkan kedatangan utusan atau pedagang Muslim, meski kisah tentang Sa’ad bin Abi Waqqas yang mendatangi China masih menjadi perdebatan sejarah tanpa bukti kuat. Namun, keberadaan komunitas Muslim awal di Tiongkok menunjukkan adanya interaksi budaya dan religius yang berlangsung secara perlahan sejak abad ke-7.

Hingga kini, China telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi global dengan pengaruh luas di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga teknologi. Perjalanan sejarahnya dari masa kejayaan Tang hingga era modern menunjukkan bahwa citra China sebagai pusat ilmu dan perdagangan dalam tradisi Islam tidak hanya mitos, tetapi memiliki dasar historis yang kuat. Ungkapan tentang mencari ilmu hingga ke China, meski tidak disandarkan pada sabda Nabi, tetap menyimpan makna mendalam: bahwa peradaban manusia bergerak maju melalui pertukaran, bukan pemisahan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya