Delapan Tugas Utama Dorong Ekonomi 2027
Wakil Menteri Koordinator Perekonomian menyampaikan delapan fokus strategis untuk mencapai pertumbuhan ekonomi nasional 6 persen pada 2027.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 21.18 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengungkapkan delapan prioritas tugas yang diberikan oleh Menteri Koordinator Airlangga Hartarto guna mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Tugas-tugas ini mencakup pengoptimalan kebijakan stimulus, percepatan sektor pariwisata, serta peningkatan efektivitas kebijakan ekonomi secara menyeluruh. Tujuan utamanya adalah mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun 2027, dengan potensi capaian lebih tinggi jika seluruh elemen pemerintah dan swasta bergerak sinergis.
Ia menekankan pentingnya konsistensi dan kecepatan dalam pelaksanaan kebijakan, menegaskan bahwa dengan kerja cepat, cerdas, dan terkoordinasi, target 6 persen dapat dilampaui. Beberapa kebijakan yang telah berjalan, seperti subsidi upah, program pembukaan rekening, magang, serta bantuan pangan, kini menjadi fokus untuk dioptimalkan guna meningkatkan daya beli dan stimulasi ekonomi domestik.
Pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah sektor kunci sebagai penggerak utama pertumbuhan, termasuk pariwisata dan industri pengolahan. Selain itu, kawasan ekonomi khusus (KEK) juga menjadi fokus strategis dalam memacu investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah. Dradjad menyoroti adanya kendala struktural, seperti perbedaan pandangan antarlembaga pemerintah dan pemerintah daerah, serta ketidakselarasan kebijakan yang berdampak pada hambatan investasi.
Untuk mengatasi hal ini, salah satu tugas utama yang diberikan adalah menyelaraskan kebijakan lintas kementerian dan pemerintah daerah, serta mempercepat proses perizinan. Koordinasi intensif dengan kepala daerah akan dilakukan guna menyelesaikan hambatan teknokratis maupun politis yang menghambat kegiatan usaha. Dengan pendekatan ini, diharapkan iklim investasi dapat lebih kondusif dan mendorong kenaikan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Indonesia Kaya Gas, Tapi Masih Impor LPG
Kekayaan gas alam Indonesia tidak menyebabkan penghentian impor LPG karena keterbatasan komposisi gas bumi yang tidak sesuai untuk produksi LPG domestik.
7 Oktober 2026

IMF Beri Pinjaman US$189 Juta untuk Atasi Krisis Ekonomi Papua Nugini
Dana Moneter Internasional menyetujui bantuan keuangan sebesar US$189 juta kepada Papua Nugini untuk menopang stabilitas ekonomi di tengah tekanan dari stagnasi produksi LNG dan dampak iklim.
7 Oktober 2026

LPS Siapkan Aturan Baru Biaya Operasional Berbasis Kinerja 2027
LPS menyusun peraturan baru untuk standar biaya operasional berbasis kinerja, menggantikan sistem berbasis masukan, mulai tahun 2027 sesuai amanat UU P2SK.
7 Oktober 2026

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, Dolar AS Berada di Rp17.875
Nilai tukar rupiah berakhir di Rp17.875 per dolar AS, menguat sedikit dari posisi sebelumnya, seiring tekanan eksternal dan pergerakan cadangan devisa BI.
7 Oktober 2026
Berita Lainnya

Data Center AI Harus Seimbangkan Kebutuhan Publik dan Digital
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Haji 2027: Biaya Pelunasan Turun Jadi Rp23 Juta Berkat Subsidi
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Indonesia Siap Raih Ekspor Nikel US$40 Miliar pada 2026
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

550 WNI Ditahan di Kamboja Usai Operasi Anti-Penipuan Online
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.22 WITA

Mendagri Hadiri Taklimat Presiden untuk Perwira Tinggi TNI-Polri
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

Pemerintah Tegas Atur Penggunaan Kontraktor Lokal di Sektor Pertambangan
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

Ibu Rumah Tangga Palembang Kembangkan Usaha dari Modal Rp2 Juta
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

IPOT X Revolusi Baru di Dunia Investasi Berbasis AI
Rabu, 7 Oktober 2026, 21.21 WITA

