Desil 10 Tak Cuma Tentukan dari Rumah Mewah
Kehadiran rumah di kawasan elit seperti Pondok Indah tidak otomatis menentukan seseorang masuk desil 10, karena pengelompokan berdasarkan indikator sosial ekonomi yang lebih kompleks.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 18.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pengelompokan masyarakat dalam desil 1–10 yang digunakan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak mengacu pada satu faktor tunggal seperti kepemilikan properti mewah. Meskipun seseorang memiliki rumah di kawasan elit, hal tersebut tidak menjamin masuk ke dalam desil tertinggi. Klasifikasi ini didasarkan pada kombinasi berbagai indikator, termasuk tingkat pendidikan, kepemilikan aset, komposisi keluarga, dan pola pengeluaran rutin, bukan hanya aspek material.
Seorang pakar statistik menyatakan bahwa desil adalah hasil pengolahan data multidimensi yang mencakup informasi dari berbagai sumber, seperti data registrasi sosial ekonomi (Regsosek), data sosial kesejahteraan (DTKS), serta data percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem (P3KE). Seluruh data tersebut kemudian diverifikasi dan disinkronkan dengan data kependudukan dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri, untuk memastikan akurasi dan keterbaruan.
Penggunaan desil sebagai dasar dalam program bantuan sosial tidak bersifat mutlak. Seorang yang berada dalam desil 10 tetap bisa tidak menerima bantuan jika tidak memenuhi kriteria spesifik dari masing-masing kementerian atau lembaga (K/L). Misalnya, dalam Program Keluarga Harapan (PKH), seseorang yang termasuk desil 1 tetap tidak layak menerima bantuan jika tidak memiliki anak yang sedang sekolah atau ibu yang sedang hamil.
Di sisi lain, program rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) lebih menekankan pada aspek pendapatan, sehingga dua keluarga dengan desil yang sama bisa memiliki keputusan berbeda terkait penerimaan bantuan. Oleh karena itu, desil hanya berfungsi sebagai dasar awal atau referensi, bukan satu-satunya penentu penerima manfaat. Setiap program memiliki mekanisme penilaian sendiri yang disesuaikan dengan tujuan dan konteks kebijakan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pupuk Indonesia Perkuat Irigasi di 5 Wilayah, Dorong Ketahanan Pangan
Pupuk Indonesia bersama Rabu Biru Foundation resmikan infrastruktur irigasi di lima daerah untuk tingkatkan akses air bagi petani lahan tadah hujan.
26 Oktober 2026

Indonesia Butuh Lebih Banyak Penulis Naskah Film Profesional
Ketua BPI ungkap industri film lokal kekurangan talenta, terutama penulis naskah, meski lulusan perfilman jumlahnya melimpah namun hanya sedikit yang masuk ke industri.
26 Oktober 2026

Adegan Pernikahan Chandler Bing Menggambarkan Harapan Terdalam Perry
Keluarga Matthew Perry mengungkapkan kesedihan mendalam saat menyaksikan adegan pernikahan Chandler dan Monica, yang mencerminkan keinginan abang mereka untuk memiliki keluarga di tengah perjuangan melawan kecanduan.
26 Oktober 2026

Ubed Siap Laga Penentu di Final French Open 2026
Tunggal putra Indonesia, Moh Zaki Ubaidillah, melangkah ke final French Open 2026 setelah menaklukkan unggulan Prancis dalam pertandingan sengit tiga gim.
26 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lula Menang Pilpres Brasil, Ulangi Sejarah sebagai Presiden Terlama
Senin, 26 Oktober 2026, 09.29 WITA

Singapura Tanggapi Pemangkasan Ekspor Gas RI dengan Langkah Hukum
Senin, 26 Oktober 2026, 09.29 WITA

Pembayaran Gaji ASN Tetap Melalui Perbankan
Senin, 26 Oktober 2026, 09.29 WITA

Indonesia Siap Tentukan Nasib Rating Pasar Modal Sendiri
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

9 Perusahaan Siap Melantai di Bursa, Tiga Punya Aset Jumbo
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

Asing Jual Bersih Rp8,73 Triliun, 10 Saham Ini Paling Dijual
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

Asing Borong Saham Unggulan, IHSG Akhiri Pekan Naik 1,21%
Senin, 26 Oktober 2026, 09.28 WITA

IHSG Diproyeksi Naik Terbatas dengan Risiko Koreksi
Senin, 26 Oktober 2026, 09.25 WITA

