Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Desil 10 Tak Cuma Tentukan dari Rumah Mewah

Kehadiran rumah di kawasan elit seperti Pondok Indah tidak otomatis menentukan seseorang masuk desil 10, karena pengelompokan berdasarkan indikator sosial ekonomi yang lebih kompleks.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 18.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Desil 10 Tak Cuma Tentukan dari Rumah Mewah
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pengelompokan masyarakat dalam desil 1–10 yang digunakan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak mengacu pada satu faktor tunggal seperti kepemilikan properti mewah. Meskipun seseorang memiliki rumah di kawasan elit, hal tersebut tidak menjamin masuk ke dalam desil tertinggi. Klasifikasi ini didasarkan pada kombinasi berbagai indikator, termasuk tingkat pendidikan, kepemilikan aset, komposisi keluarga, dan pola pengeluaran rutin, bukan hanya aspek material.

Seorang pakar statistik menyatakan bahwa desil adalah hasil pengolahan data multidimensi yang mencakup informasi dari berbagai sumber, seperti data registrasi sosial ekonomi (Regsosek), data sosial kesejahteraan (DTKS), serta data percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem (P3KE). Seluruh data tersebut kemudian diverifikasi dan disinkronkan dengan data kependudukan dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri, untuk memastikan akurasi dan keterbaruan.

Penggunaan desil sebagai dasar dalam program bantuan sosial tidak bersifat mutlak. Seorang yang berada dalam desil 10 tetap bisa tidak menerima bantuan jika tidak memenuhi kriteria spesifik dari masing-masing kementerian atau lembaga (K/L). Misalnya, dalam Program Keluarga Harapan (PKH), seseorang yang termasuk desil 1 tetap tidak layak menerima bantuan jika tidak memiliki anak yang sedang sekolah atau ibu yang sedang hamil.

Di sisi lain, program rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) lebih menekankan pada aspek pendapatan, sehingga dua keluarga dengan desil yang sama bisa memiliki keputusan berbeda terkait penerimaan bantuan. Oleh karena itu, desil hanya berfungsi sebagai dasar awal atau referensi, bukan satu-satunya penentu penerima manfaat. Setiap program memiliki mekanisme penilaian sendiri yang disesuaikan dengan tujuan dan konteks kebijakan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya