Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Menguat Tipis di Akhir Pekan, Dolar Melemah

Rupiah menguat ke level Rp17.625 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, didorong pelemahan indeks dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 19.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Menguat Tipis di Akhir Pekan, Dolar Melemah
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,03% pada posisi Rp17.625 per dolar AS, menandai pergerakan berbalik dari pelemahan pagi hari yang sempat mencapai Rp17.635. Pergerakan harian berlangsung dalam rentang antara Rp17.590 hingga Rp17.635, dengan penguatan sebesar 10 poin dari level pembukaan. Kenaikan ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,26% ke posisi 98,915, mencerminkan tekanan berkurang terhadap greenback di pasar global.

Penguatan rupiah dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, terutama kecenderungan pelemahan yen Jepang yang terkait dengan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ). Kenaikan nilai yen secara tidak langsung menekan indeks dolar AS karena yen merupakan salah satu komponen utama dalam perhitungannya. Laporan dari Mega Capital Sekuritas memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS dalam waktu dekat, sejalan dengan prospek pelemahan dolar global.

Di pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun tipis 0,5 basis poin menjadi 7,11%, menunjukkan stabilitas pasar. Namun, pelaku pasar tetap waspada menyusul rilis data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan The Federal Reserve pada rapat FOMC 15–16 September mendatang. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS sebesar 60%, terutama menyusul laporan tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi.

Kenaikan inflasi AS dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, yang pada gilirannya akan mengangkat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat melemahkan dolar dan membuka ruang bagi penguatan rupiah. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Teluk Persia, terutama ancaman Iran terhadap aksi balasan terhadap AS, turut memengaruhi pasar komoditas. Harga minyak Brent bertahan di atas US$97 per barel, mencatat level tertinggi dalam enam pekan, yang berpotensi memperkuat tekanan inflasi global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya