Dislokasi Bahu pada Jefri Nichol Usai Duel Tinju
Jefri Nichol mengalami dislokasi bahu kanan saat pertandingan tinju melawan El Rumi, yang berakhir dalam 38 detik melalui TKO, menyoroti risiko cedera pada sendi yang sangat fleksibel.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.58 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 18x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Pertandingan tinju antara El Rumi dan Jefri Nichol yang digelar di Jakarta International Convention Center pada Sabtu (9/8) berakhir dalam waktu singkat, hanya 38 detik di ronde pertama. Wasit menghentikan pertarungan karena kondisi Jefri Nichol dianggap tidak aman untuk melanjutkan, dengan keputusan technical knockout (TKO) yang menunjukkan adanya cedera serius. Dari hasil penilaian medis, petinju muda itu mengalami dislokasi pada bahu kanan di tengah ronde pertama, akibat tekanan dan pukulan yang tidak terhindarkan.
Dislokasi bahu terjadi ketika tulang lengan atas keluar dari sendi yang terbentuk di tulang belikat, sebuah kondisi yang sering terjadi pada sendi paling fleksibel dalam tubuh manusia. Karena sendi bahu memiliki rongga yang dangkal dan kemampuan gerak luas, stabilitasnya lebih rendah dibanding sendi lain, sehingga rentan mengalami geseran atau keluarnya tulang dari posisinya. Faktor seperti aktivitas fisik intensif, gerakan berulang, atau trauma langsung dapat memicu kondisi ini.
Berdasarkan data medis, dislokasi bahu paling sering terjadi ke arah depan (anterior), terutama pada individu yang aktif berolahraga atau melakukan gerakan melempar secara berulang. Pada kasus Jefri Nichol, trauma akibat benturan dalam pertarungan menyebabkan sendi bahu mengalami pergeseran yang signifikan. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada ligamen, tendon, saraf, maupun pembuluh darah di sekitar sendi.
Komplikasi jangka panjang termasuk penurunan stabilitas bahu dan risiko tinggi terjadinya dislokasi berulang. Meski sebagian besar pasien dapat pulih dan kembali menggunakan bahu secara normal dalam beberapa minggu, pemulihan memerlukan penanganan medis yang tepat, termasuk pengkajian fisik dan rehabilitasi. Dalam kasus ini, penilaian medis lanjutan akan menjadi langkah penting untuk menentukan proses pemulihan dan kesiapan kembali beraktivitas fisik.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Dortmund Singkirkan Frankfurt, Puncaki Klasemen Sementara
Dortmund naik ke posisi teratas klasemen Bundesliga usai menang 1-0 atas Frankfurt lewat gol Beier di menit ke-80.
25 Oktober 2026

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Keduanya memiliki peran penting: sebelum untuk energi, sesudah untuk pemulihan, dengan waktu dan jenis makanan yang sesuai untuk hasil maksimal.
24 Oktober 2026

Indonesia Torehkan Sejarah di Asian Para Games 2026
Kontingen Indonesia menutup Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 dengan 73 medali, melampaui target emas dan menempati posisi delapan secara keseluruhan.
24 Oktober 2026

Veda Ega Ukir Sejarah dengan Pole Pertama di Moto3 Australia
Pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama mencatatkan sejarah sebagai rider pertama asal Tanah Air yang meraih posisi terdepan dalam kualifikasi Moto3 Australia 2026.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

